MUTIARA KEHIDUPAN

header ads

Sikapmu Menentukan Kesuksesanmu

Teruslah belajar, bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tapi agar bisa memiliki sikap yang lebih baik.

Jalan-jalan di kota Teknologi Shenzen, China

Perjalanan ke kota Teknologi Shenzen, China, 1 Mei 2019 dalam rangka Shenzen International Pet Fair.

Launching buku Menggali Berlian di Surabaya

Buku Menggali Berlian di Kebun Sendiri karya Bambang Suharno diluncurkan di acara Grand City Convex Surabaya, di tengah acara pameran internasional Indolivestock Expo.

Meraih sukses

Jika sukses harus diraih dengan kerja keras banting tulang siang malam, itu namanya sukses dengan mesin manual. Anda perlu belajar meraih sukses dengan mekanisme sukses otomatis (Suksesmatic.com).

Pengalaman Naik Kereta TGV di Perancis

Perjalanan ke Rennes Perancis dalam rangka menghadiri pameran internasional, naik kereta TGV dari Paris ke Rennes.

Berpikir Kritis



Prof. David Beng, seorang peneliti dari Boston University USA, telah  melakukan riset selama 5 tahun untuk mengetahui khasiat berbagai macam daun tanaman tropis. Hasil risetnya telah dipublikasikan di Journal of Human Medicine yang terbit awal tahun 2015 ini, dan artikel hasil risetnya itu cukup menghebohkan dunia pengobatan khususnya pengobatan penyakit kanker.
Dalam laporan  risetnya, David Beng mengemukakan bahwa daun singkong asal negara tropis memiliki kandungan zat yang mampu meredam  proliferasi sel kanker. Itu sebabnya ia kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat negara tropis yang suka makan daun singkong, jarang yang terkena penyakit kanker. Ia menyarankan daun singkong sebaiknya cukup direbus saja lalu dimakan, tidak perlu dibuat sayur, agar khasiat anti kankernya lebih optimal. Makan daun singkong dua hari sekali akan mampu menghambat tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

Percayakah Anda dengan tulisan di atas? Itu adalah tulisan saya yang ngawur. Hanya imajinasi saja. Jadi jangan percaya, karena saya tulis hanya sebagai contoh tentang mudahnya membuat berita bohong di ruang publik, dalam hal ini melalui media sosial.
Saat ini kita hidup di era keterbukaan informasi. Setiap hari hari kita mendapatkan berbagai macam informasi melalui broadcast Blackberry, whatsapp, facebook,  twitter dan sebagainya. Broadcast itu pada bagian akhirnya biasanya ada semacam “kata bijak” agar kita segera meneruskan informasi yang belum tentu benar tersebut ke teman-teman kita. Ada yang di akhir cerita ditulis "meneruskan info ini berarti menyelamatkan ribuan orang". ada yang tertulis "indahnya berbagi" dan sebagainya. Jika broadcast itu ada unsur religiusnya, di bagian akhir biasanya ada petuah untuk segera bertindak menyebarluaskan informasi sebagai amal ibadah. 

Padahal apabila disikapi secara kritis, banyak sekali informasi yang beredar itu adalah berita bohong alias Hoax. Bahkan sebagian berupa fitnah terhadap tokoh, industri ataupun institusi. Bisa dibayangkan betapa bahayanya ikut menyebarkan berita bohon, apalagi fitnah. Belum lama ini saya menerima broadcast yang terkesan sangat meyakinkan tentang dialog seorang pasien dengan dokter. Dokter bilang ke pasien, penyakitnya yang berupa kista di rahim adalah akibat suka makan sayap  dan leher ayam , dimana di leher ayam biasa disuntikan hormon yang berbahaya.  Sangat mungkin sudah ratusan ribu orang percaya dengan informasi menyesatkan ini.
Di era keterbukaan informasi, kita perlu lebih kritis menangkap informasi. Ibarat makan, informasi yang beredar itu ada yang berupa makanan bergizi, ada yang tidak bergizi dan ada juga yang berupa sampah dan racun. Karena informasi adalah makanan bagi otak kita, maka kita perlu memilih dan melakukan crosscheck, apakah makanan itu cukup bergizi buat otak kita atau tidak.

Menuntut ilmu hingga perguruan tinggi adalah melatih berpikir kritis. Berpikir kritis mengandung aktivitas mental dalam hal memecahkan masalah, menganalisis asumsi, menguji rasionalitas, mengevaluasi, melakukan penyelidikan, dan mengambil keputusan. Dalam proses  pengambilan keputusan, kemampuan mencari, menganalisis dan mengevaluasi informasi sangatlah penting.  Ciri orang yang berpikir kritis akan selalu mencari dan memaparkan hubungan antara masalah yang didiskusikan dengan masalah atau pengalaman lain yang relevan. 
Menurut Prof. Potter, ada tiga alasan pentingnya keterampilan berpikir kritis dimasa sekarang. Pertama, adanya ledakan informasi. Saat ini terjadi ledakan informasi yang datangnya dari broadcast informasi  dan puluhan ribu website mesin pencari di internet. Informasi dari berbagai sumber tersebut bisa jadi banyak yang ketinggalan zaman, tidak lengkap, atau tidak kredibel. Untuk dapat menggunakan informasi ini dengan baik, perlu dilakukan evaluasi terhadap data dan sumber informasi tersebut. Kemampuan untuk mengevalusi dan kemudian memutuskan untuk menggunakan informasi yang benar memerlukan keterampilan berpikir kritis. Oleh karena itu, maka keterampilan berpikir kritis sangat perlu dikembangkan masyarakat.

Ketidak mampuan berpikir kritis, menyebabkan banyak orang percaya pada berita bohong. Kita lihat , banyak orang seenaknya menuduh seorang tokoh sebagai antek komunis, antek liberalisme ataupun penjahat perang.

Kedua, adanya tantangan global. Saat ini terjadi krisis global yang serius. Untuk mengatasi kondisi yang krisis ini diperlukan penelitian dan pengembangan keterampilan-keterampilan berpikir kritis.  Berpikir kritis bukanlah berpikir negatif, justru sebaliknya, berpikir kritis dapat menggali informasi lebih dalam. Ketiga, adanya perbedaan pengetahan warga negara. Sejauh ini mayoritas orang di bawah  25 tahun sudah bisa meng-online-kan berita mereka. Beberapa informasi yang tidak dapat diandalkan dan bahkan mungkin sengaja menyesatkan, termuat di internet.

Berpikir kritis bukan hanya untuk informasi di dunia maya. Berulangnya kasus penipuan investasi yang jelas-jelas tidak masuk akal,  beredarnya berita tahayul, penipuan berkedok undian berhadiah adalah sedikit contoh akibat masyarakat kita belum bersikap kritis terhadap informasi. (Bambang Suharno)***

Pelajaran dari Pencipta Becak



Tahun 1869 , seorang pria Amerika yang menjabat sebagai pembantu di kedutaan Amerika Serikat di Jepang berjalan-jalan menikmati pemandangan indah di kota Yokohama. Saat itu ia berpikir bagaimana caranya agar istrinya yang kakinya lumpuh bisa ikut jalan-jalan menikmati pemandangan.  Setelah merenungkan idenya, ia menemukan gagasan untuk membuat kendaraan yang tidak perlu ditarik pakai kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. 

Untuk menuangkan gagasannya, ia mulai menggambarkereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Kereta itu berjalan dengan dua roda dan cukup ditarik manusia, tidak perlu kuda sebagaimana kereta yang ada pada saat itu. Gagasan itu kemudian menjadi kenyataan. Orang Jepang menyebut kendaraan ini jinrikisha. Seiring berjalannya waktu, jinrikisha menarik perhatian masyarakat Jepang, khususnya para bangsawan. Para penarik jinrikisha  diberi upah setiap minggu atas jasanya menarik kendaraan ini untuk keuarga bangsawan dan orang berada yang membutuhkan jasa “jalan-jalan” menikmati pemandangan.

Di kemudian hari kendaraan ini populer di berbagai negara setelah mengalami berbagai penyempurnaan.  Semula dua  roda menjadi roda tiga. Yang semula ditarik manusia, menjadi dikayuh dua kaki manusia .  Kendaraan ini di Indonesia dikenal dengan nama becak.
Coba kita perhatikan. Bermula dari sebuah masalah, kemudian timbul gagasan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi istrinya, berikutnya berkembang menjadi “bermanfaat bagi banyak orang”. Gagasan  bisa muncul atas masalah yang dihadapi seseorang.  Solusinya untuk seseorang, kemudian bisa berkembang menjadi “bermanfaat bagi  masyarakat”. Pencipta becak semula pasti tidak mengira bahwa gagasan sebuah kendaraan untuk istrinya itu di kemudian hari menjadi kendaraan yang dipakai oleh jutaan orang di berbagai negara, dan mampu menjadi sumber penghasilan bagi tukang becak.
Apapun masalah yang kita hadapi, bukanlah sebuah alasan untuk banyak mengeluh. Soal jalan macet, sampah berserakan, banjir, panas terik, udara kotor, itu semua bukan alasan bagi siapapun untukberdiam diri dan menyalahkan  situasi. Anda tahu apa yang terjadi di dalam situasi macet di pagi dan sore hari di Ibu Kota? Di saat itulah para pengendara mobil mendengarkan radio kesayangannya. Jumlah pendengar radio dari kalangan kelas menengah melonjak di saat jalanan macet. Itu artinya harga iklan radio pada jam macet menjadi lebih tinggi dibanding jam lainnya. Dalam bisnis periklanan dikenal sebagai “prime time” yang nilainya jauh di atas waktu normal.

Kemacetan adalah masalah.  Acara radio adalah salah satu cara untuk mengusir kepenatan di tengah kemacetan.  Dampaknya adalah harga iklan menjadi lebih tinggi. Begitulah salah satu cara menyikapi masalah.  Pasti kemacetan bukan hanya acara radio sebagai “pelariannya”. Ada sumber lain untuk mengatasinya, yakni teknologi  internet. Jalanan macet telah membuat pemborosan luar biasa di jalan. Betapa banyak bahan bakar terbuang percuma gara-gara macet.  Daripada  menghabiskan banyak waktu untuk macet, mulai saja dibuat cara agar orang bisa berbelanja melalui internet. Jangkaun pasarnya telah melampaui prediksi masyarakat. Bukan hanya untuk orang yang malas keluar karena macet, tapi juga untuk masyarakat yang jauh.  Internet marketing telah menjangkau lintas negara. Kini kita bisa membeli banyak barang dan jasa di internet tanpa harus bertemu dengan si penjual.
Kini kita menghadapi masalah sumber bahan bakar yang kian menipis di perut bumi.  Jika 10 tahun lagi minyak bumi benar-benar habis, apakah kita tidak bisa mengisi bensin lagi? Tak usah khawatir, telah banyak penelitian tentang pengganti bahan bakar minyak. Saat ini bukan hanya gas sebagai alternatifnya, tapi juga energi matahari, angin, ombak dan sebagainya. Bahkan guru biologi SMA saya di tahu 1980an pernah mengatakan, bisa saja kelak mobil tidak usah diisi bensin tapi diisi gula atau beras. Itu kan bahan bakar. Kenapa tidak?

Saat ini para ahli sedang berlomba-lomba membuat batere yang dapat menyimpan energi yang besar dan tahan lama. Jika ini sudah berhasil, kita tidak hanya mengisi (charge) batere telepon seluler saja, tapi juga batere kendaraan, dan batere seisi rumah. Kelak kita di negara tropis tinggal menyerap energi matahari disimpan untuk diubah menjadi listrik dan energi untuk kendaraan.

Masalah kita begitu banyak, ada korupsi yang sangat mengganggu jalannya pembangunan, sekolah mahal, pemanasan global, sampah yang menumpuk dimana-mana, transportasi mahal.
Stop mengeluh!  Mari kita belajar dari si pencipta becak. Selamat berkarya.***
 Bambang Suharno
Artikel ini telah dimuat di majalah Info Akuakultur Edisi Agustus 2015



Daya Imajinasi (Bambang Suharno)



Pekerjaan Anda tidak akan pernah lebih besar daripada imajinasi yang Anda buat.
(Napoleon Hill)

Edgar Riza Boroughs (1875-1950) adalah penulis terkenal  dengan karyanya yang berjudul Tarzan of The Ape (1914), kisah tentang petualangan Tarzan, yang hingga sekarang terkenal di layar lebar maupun layar televisi. Sebelum menjadi penulis terkenal, Edgar  pernah bekerja sebagai buruh tambang, penggembala sapi, penjaga toko bahkan pernah juga menjadi tentara dan polisi. Sampai akhir hayatnya, ia menulis 60 novel fiksi dan 20 di antaranya cerita petualangan Tarzan.

Pada cerita petualangan Tarzan , Edgar dengan lancar menceritakan tentang hutan, berbagai peristiwa dan keadaan di benua Afrika. Tahukah Anda bahwa ia sama sekali belum pernah ke Afrika? Cerita tentang Afrika ia dapatkan dari teman-temannya yang pernah ke Afrika serta dari sumber-sumber bacaan. Hebatnya, kisah tentang Afrika dapat diceritakannya secara detail dan terasa sangat hidup. Edgar memiliki daya imajinasi yang luar biasa, dan mampu menguraikan dalam buku hingga dapat membawa pembaca ke imajinasi alam Afrika.  Tak ada yang menyangka bahwa sang penulis tak pernah menginjakkan kaki di benua Afrika.

Daya imajinasi telah lama menjadi bahan kajian para ahli.  Bukan hanya untuk membuat karya tulis fiksi sebagaimana Edgar, melainkan juga dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.  Cobalah Anda bertanya kepada anak kecil, “kelak kalau sudah besar mau jadi apa?’. Mereka dengan lantang menjawab mau jadi tentara, polisi, dokter, insinyur. Jawaban mereka merupakan hasil imajinasi setelah mengetahui berbagai macam profesi. Anak-anak yang ingin jadi jenderal, senang sekali melihat gambar jenderal,  mobil tentara, tayangan TV dan film tentang pimpinan angkatan perang.  Sayangnya, jarang anak-anak yang terus memelihara daya imajinasinya hingga dewasa.

Kebanyakan setelah sekolah daya imajinasi manusia mengalami penurunan. Mereka lebih banyak dilatih untuk berpikir logis, dan pada akhirnya segala hal disyaratkan untuk logis.  Ketika mereka menemukan bahwa menjadi  jenderal itu syaratnya sangat berat, mereka mulai berlogika untuk cari profesi lain yang lebih realistis.

Padahal para pemimpin hebat adalah mereka yang memiliki daya imajinasi besar. Mereka tidak mau imajinasinya  hanya menjadi catatan yang disimpan tanpa diketahui orang lain. Meski banyak cemoohan datang, mereka tetap menyampaikan hasil imajinasinya. Visi para pemimpin dunia adalah hasil dari imajinasinya.  Pernyataan Presiden AS John F Kennedy berikut ini bisa kita jadikan contoh.
 Kita menentukan sebuah pelayaran di lautan yang baru (perjalanan menuju bulan), sebab ada ilmu pengetahuan baru yang bisa diraih (teknologi Apollo) serta hak-hak baru untuk dimenangkan (peradaban di bidang teknologi), dan semuanya itu harus dimenangkan untuk digunakan bagi kemajuan umat manusia di seluruh dunia,kata Keneddy.

Sepintas, pernyataan tersebut nampak sederhana dan biasa saja. namun jika kita perhatikan konteks lahirnya pernyataan tersebut, baru kita merasa merinding. Pernyataan Kennedy muncul sebagai perwujudan visinya meluncurkan Apollo 11 dan mendaratkan manusia di bulan, tepatnya pada saat ia berpidato pada 25 Mei 1961. Ia mencanangkan visi tersebut dalam tenggang waktu sepuluh tahun. Jadi ia pertegas vision statementnya: mendaratkan manusia di bulan sebelum tahun 1970!
Kata Keneddy,  bangsa ini harus memiliki komitmen untuk meraih goal mendaratkan manusia di bulan dan kembali ke bumi dengan selamat sebelum akhir dekade ini.

Pada masa itu, proyek angkasa luar yang digagas Kennedy disikapi sinis oleh mayoritas masyarakat dunia, bahkan Kennedy banyak mendapatkan label sinting. Namun begitu, imajinasi besar itu tetap membuat Kennedy terus melaju dengan penuh percaya diri. Ia mendorong NASA dan menyemangati seluruh rakyat Amerika untuk mendukungnya.
Hasilnya, pada 20 Juli 1969 dunia menyakasikan, astronot Neil Amstrong yang dikirim NASA untuk menjalankan misi benar-benar berhasil menginjakkan kakinya di bulan! Cita-cita besar Kennedy tercapai, persis sebelum 1970. Kennedy sendiri tak sempat melihat astronotnya mendarat di bulan karena setahun sebelumnya dia terbunuh. 
Kehebatan Anda di masa depan tergantung seberapa besar daya imajinasi Anda.

Jeff Bezos, pendiri Amazon, mengatakan, kelak  setiap buku dalam berbagai bahasa dapat disediakan dalam waktu kurang dari 60 detik. Dari imajinasi ini, lahirlah toko buku online terbesar di dunia Amazon.com.  Sementara  itu pendiri google Larry Page dan Sergey Brin bermimpi bisa  mengelola informasi dunia yang dapat diakses gratis oleh setiap orang dimanapun berada.  

Dua puluh tahun lalu, tak terbayang ada berbagai informasi dapat diakses  dengan begitu mudah dan gratis. Itulah hasil imajinasi pendiri google. Bagaimana dengan Anda?***

artikel ini telah dimuat di majalah Infovet edisi mei 2015

Diskusi MEA dari Kampus ke Kampus

Berlakunya MEA, Masyarakat Ekomomi ASEAN, apakah sebuah mimpi buruk? Sejauh mana kesiapan kita? Bagaimana cara terbaik kita untuk menyikapi perubahan besar ini?

Dalam beberapa bulan terakhir ini, diskusi MEA tiada habisnya. Bermacam organisasi pemerintah maupun swasta melakukan pembahasan baik diskusi terbatas maupun seminar besar. Demikian pula berbagai kampus menyelenggarakan talkshow dan seminar membahas apa itu MEA dan bagaimana menyikapinya.

Sabtu 28 Maret 2015, saya diundang sebagai narasumber talkshow di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan tema Peran Pemuda dalam Mengembangkan UKM Peternakan di Era MEA. Acara yang berlangsung di Gedung Roedhiro ini menampilkan  Sekretaris Ditjen Peternakan Dr. Riwantoro, Pakar Ekonomi Dr. Istiqomah, Pebisnis peternakan Unggas Bambang Rijanto dan saya. Lebih dari 200 orang hadir terdiri dari mahasiswa dosen, peternak, guru dan siswa SMK Peternakan. Acara dipandu oleh Dr. Juni Sumarmono, dosen Fakultas Peternakan Unsoed.

Seminggu kemudian, Sabtu 4 April 2015, saya sebagai pembicara seminar di Fakultas Teknik Industri UII Jogja. Saya tampil bersama owner Klinik Kopi Firmansyah. Lebih dari 100 mahasiswa hadir dalam seminar ini. Di kedua forum ini, perbincangan utamanya adalah seputar bagaimana menyiapkan diri di Era MEA yang persaingannya diperkirakan semakin kompetetif. Bedanya, di Unsoed, bentuk acaranya talkshow dan fokusnya ke arah usaha peternakan.

Beberapa bulan sebelumnya, beberapa lembaga mengundang saya untuk membahas topik yang sama, antara lain STIE Bhakti Pembangunan Jakarta Selatan, Gereja Kristen Gunung Sahari Jakarta, dan lain lain.

Dari berbagai forum ini, saya melihat bahwa publik lebih banyak bersikap pesimis dari pada optimis. Apalagi jika dalah forum itu ada pejabat dan pakar. Mereka biasanya mengeluarkan data yang menyedihkan, peringkat SDM Indonesia yang berada di bawah Singapura, Thailand dan Malaysia.

Dengan data seperti ini, publik secara tidak sengaja diajak untuk memaklumi kalau nanti kita hanya sebagai penonton di era MEA ini. Padahal, MEA bukan hanya soal peringkat SDM. Mari kita telaah.

Persaingan antar pemerintah

Sebenarnya persaingan di era MEA lebih banyak persaingan antar pemerintah. Masyarakat hanya mengikuti apa yang terjadi saja, karena prinsipnya masyarakat yang akan meihat peluangnya dimana, jika ada peluang bagus untuk ekspor, akan berusaha ekspor. Sebaliknya jika peluangnya impor, masyarakat akan tergiur untuk impor. Hanya sedikit pengusaha yang "membela" tanah air dengan hanya mengkonsumsi produk dalam negeri dan tidak mau produk impor.

Di kalangan peternak ayam ras (ayam negeri), kita melihat mereka bisa memelihara ayam dengan produktivitas yang sama dengan peternak lain Thailand dan Malaysia. Yang membedakan adalah, harga bahan baku pakan mahal sehingga biaya pakan mahal. Harga di kandang murah tapi sampai di konsumsi selisihnya tinggi, akibat rantai tata niaga yag panjang dan biaya transport tinggi. Nah urusan bahan baku mahal, sistem tata niaga panjang, biaya transport tinggi, itu adalah urusan pemeritah.

Jika mau bersaing dengan hasil gemilang, caranya tidak lain adalah pemerintah mengatur tata niaga ayam (pertanian), membuat sistem logistik yang baik sehingga biaya transport dan pengiriman barang lebih efisien. Belum lagi soal pungutan resmi dan tidak resmi antar propinsi, antar kabupaten maupun antar pulai. Itu semua sumber pemborosan yang mengakibatkan daya saing rendah. Dan itu semua bukan urusan peternak, melainkan pemerintah.

Jangan Salahkan Masyarakat

Jadi jangan salahkan masyarakat, karena masyarakat Indonesia pada umumnya pekerja keras. Bukan pemalas sebagaimana anggapan kita selama ini. Masyarakat kita juga bisa diajak disiplin jika diperlakukan dengan disiplin yang baik.

Ingat, beberapa tahun lalu masyarakat tidak bisa diatur, suka naik kereta di atap atau di sambungan antar gerbong. Sekarang mereka mau disiplin, tidak ada yang bergelantungan di atap dan di rangkaian antar gerbong. Mereka bisa didiplin karena diajak oleh pemimpin yang berdisiplin. Lihat juga masyaraat kita kalau di Singapura, pasti au disiplin dalam antri, disiplin di jalan, dan sebagainya

Itu semua karena aparat pemerintah yang mengelola Kereta Api mampu memimpin masyarakat dengan sistem yang baik.

Persaingan Bukan Soal Harga Murah

Tak kalah pentingnya , persaingan bukan hanya soal harga kita harus lebih murah dibanding negara lain.  Coba kita lihat faktanya. Contohnya dalam perdagangan ayam dunia, Brazil dikenal menawarkan ayam yang lebih murah dibanding negara lain, namun nyatanya Eropa lebih memilih ayam dari Thailand. Itu karena Thailand mampu memberikan nilai lebih dibanding Brazil.

Untuk dapat memenangkan persaingan, pelaku bisis bisa menjadi pelopor dalam menyediakan produk tertentu. Contoh merek Aqua, teh botol Sosro. Keduanya sanggup bersaing karena bertindak sebagai pencipta atau pelopor produk. Tentunya mereka siap bersaing di Era MEA.


Bambang Suharno (kanan) di FTI UII Jogja
Jika menjadi pelopor nggak bisa, jadilah yang terbaik. Google, facebook dan twitter adalah contoh produk yang bukan pelopor namun sebagai pemenang. Karena mereka memberikan yang lebih baik dibanding yang lain.

Jika menjadi yang terbaik juga tidak bisa, maka pelaku bisnis dapat bersaing dengan menjadi yang berbeda. Produk-produk yang secara kualitas tidak yang terbaik, mampu bersaing jika dapat memberikan sesuatu yang berbeda dibanding produk pada umumnya.

(bersambung)

Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Daya Saing Kita

Dalam sebuah diskusi dengan kalangan pelaku bisnis peternakan unggas, saya bertanya kepada seorang peternak, "apakah Anda bisa memelihara ayam dengan standar produksi yang sama dengan yang dilakukan oleh Peternak Thailand?"

Jawabnya dengan mantap," Ya, bisa. kalau di Thailand satu meter persegi menghasilkan ayam hidup 10 kg dalam 25 hari, saya bisa. Kalau di Thailand konversi pakan 1,8, saya bisa. Bukan hanya Thailand, mau diadu dengan negara lain dengan parameter teknis yang sama, kami siap".

"Lho, kalau begitu kita nggak usah takut globalisasi dong, apalagi MEA (masyarakat Ekonomi ASEAN," kata saya.

"Ya, seharusnya tidak, karena setiap teknologi baru di   bidang peternakan, kita bisa langsung mempraktekannya. yang jadi masalah adalah faktor-faktor di luar urusan peternak. Misalnya rantai pemasaran yang panjang, biaya distribusi yang lebih mahal, bahan baku pakan lebih mahal. Juga pungutan-pungutan yang nggak jelas,"urainya berapi-api.

Sementara itu di beberapa forum yang membahas daya saing Indonesia, para pejabat dan birokrat berulang-ulang berbicara soal indeks kualitas SDM, dimana Indonesia pada posisi yang rendah. Untuk mengukur indek kualitas SDM ini digunakan parameter antara lain tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Melalui ukuran indeks SDM ini, lantas mereka--para pakar--menjadi memaklumi bahwa Indonesia layak kalah dengan negara tetangga. Karena para pakar memaklumi jika kita kalah bersaing, maka psikologis masyarakat menjadi kalah, menjadi pemegang "mental kalah" bukan mental pemenang.

Sangat disayangkan pula bahwa dalam analisa itu disampaikan, karena peternak rata-rata tingkat pendidikannya rendah, maka tidak mampu bersaing dengan peternak negara lain.

Semestinya kita memilah dulu peta persaingan. Di bidang peternakan unggas, permasalahan utamanya justru bukan di tingkat pelaku budidaya alias peternak. Mereka sudah mampu beternak sekelas peternak luar negeri. Bahkan bisa lebih efisien dari mereka. Soalnya adalah faktor di luar itu.

Jadi gimana? Menurut saya, yang utama adalah pemerintahnya, di pusat maupun di daerah. Apakah mereka bisa mengambil terobosan agar bahan baku pakan melipah dan harganya bersaing dengan bahan baku impor. Apakah pemerintah bisa lebih kreatif dalam membuat kebijakan yang mendorong rantai pemasaran dari kandang ke konsumen lebih efisien. Apakah infrastruktur khususnya jalan dari kandang ke konsumen bisa dijamin tidak rusak, sehingga lebih lancar dan tingkat kerusakan dan kematian ternak di perjalanan menurun?

Jika itu semua bisa dilakukan, peternak siap bertanding di laga ASEAN.

Oya, tahun lalu saya berkunjung ke acara pameran peternakan di Perancis (SPACE 2014) . Saya berkesempatan berkunjung ke peternakan sapi dan ayam. Perjalanan dari kota Rennes (tempat pameran) ke peternakan ditempuh dalam waktu 1 jam, dengan bus ukuran besar. Jalannya halus mulus tanpa lubang, sampai di halaman peternakan. Bagaimana dengan jalan menuju peternakan kita?

Jangankan ke peternakan, jalan menuju perumahan di tengah kota saja banyak yang hancur hehehe.

Tetang semangat.