Saturday, April 15, 2017

Bisakah Aplikasi Android Mengurangi Kesenjangan Harga Ayam dan Telur (dan juga komoditi pertanian lainnya) Antara Petani/Peternak dengan Konsumen?

Dalam waktu dekat pemerintah akan menetapkan harga acuan ayam hidup, karkas dan telur. demikian informasi yang dikutip beberapa media termasuk tempo.co. Diberitakan, Komisi VI DPR meminta pemerintah menetapkan harga acuan live bird (ayam hidup) dan karkas, serta telur ayam ras di tingkat peternak dan konsumen.


Hal ini disampaikan pimpinan rapat kerja Azam Azman Natawijata saat membacakan kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VI DPR dengan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, Ketua KPPU Syarkawi Rauf, dan perwakilan peternak ayam pedaging dan layer.


Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti menyampaikan harga acuan live bird (ayam hidup) dan karkas, serta telur di tingkat peternak dan konsumen tercantum dalam draft revisi Permendag No. 63 Tahun 2016. Revisi tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat

Dalam catatan Bisnis.com, dalam draft revisi tersebut, pemerintah mengusulkan harga acuan rata-rata nasional untuk telur ayam sebesar Rp 18.000 per kg dan ayam hidup Rp 18.000 per kg di tingkat peternak sentra produksi. Sementara harga acuan di tingkat konsumen, untuk telur Rp 22.000 per kg dan karkas ayam Rp 32.000 per kg.

Bisakah Efektif ?

Pertanyaannya bisakah harga acuan tersebut efektif berjalan di lapangan? Mudah-mudahan bisa berjalan efektif. Namun kalaupun tidak, hal itu bukan sesuatu yang mengherankan, karena banyak faktor pembentuk harga komoditi.

Seperti diketahui Indonesia dikenal sebagai negara dengan biaya logistik yang tinggi dibanding negara lain. Di negara maju biaya logistik sekitar 10% sedangkan di Indonesia bisa 20%. Bahkan untuk komoditi pertanian bisa lebih tinggi lagi.

Contoh, harga telur di tingkat peternak (farm gate price) 15.000/kg, maka mestinya sampai di konsumen ditambah 20% menjadi 18.000. Namun apa yang terjadi sekarang ini harga di peternak 13.000/kg, di konsumen paling murah 18.000.

Harga ayam di peternak sebesar Rp. 15.000/kg hidup. Jika ongkos motong Rp. 2000/ekor, maka menjadi 17.000. Sampai di konsumen mestinya sekitar Rp 20.400 per ekor yang beratnya sekitar 0,7 kg, namun di konsumen wilayah Jakarta harga ayam potong/karkas sekitar Rp 25.000 per ekor yang beratnya 0,7-0,8 kg.

Kesenjangan harga antara peternak dan konsumen sudah terjadi bertahun-tahun. Bahkan sering terjadi harga di peternak jatuh di konsumen sama sekali tidak turun. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sangat mungkin ini karena kesenjangan informasi antara konsumen dan produsen.
Konsumen yang dimaksud di sini adalah konsumen rumah tangga maupun konsumen usaha (kuliner dan usaha olahan daging dan telur dan sebagainya).

Seorang pemilik rumah makan pernah saya tanya apakah tahu harga ayam di peternak saat ini sedang jatuh. Dia bilang tidak tahu sama sekali. Baru saat itu ia menelepon suppliernya agar harganya diturunkan. Bayangkan berapa ribu atau juta rumah tangga yang tidak peduli situasi harga ayam di peternak menyebabkan kesenjangan harga yang tinggi.

Lantas bagaimana mengatasi kesenjangan harga akibat kesenjangan informasi ini?

Aplikasi Android

Mari kita jajaki pemanfaatan aplikasi android. Untuk mudahnya kita bisa mengadopsi gagasan ojek online. Sebelum ada ojek online, tarif ojek sangat bervariasi, tergantung hasil negosiasi antara penumpang dengan tukang ojek. Posisi ojek juga hanya di pangkalan, tidak bisa menjemput penumpang. Sedangkan ojek online tarifnya jelas, bisa menjemput, mudah dicari.

Ini karena konsumen memasang aplikasi ojek. Demikian juga tukang ojek memasang aplikasi yang bisa mengetahui dimana konsumen yang membutuhkan jasa ojek.

Well, kita sekarang bicara ayam dan telur. Mari kita berandai-andai semua ibu rumah tangga memasang aplikasi "ayam dan telur". 
Ketika konsumen membutuhkan telur 5 kg tinggal klik, maka akan muncul harga telur di beberapa kios terdekat. Konsumen tinggal pilih mau beli di minimarket, toko sembako, pasar tradisional atau grosir telur atau bisa saja langsung di kandang ayam yang jaraknya cukup terjangkau dari rumah konsumen. Aplikasi android akan menawarkan apakah telur mau diantar ke rumah atau diambil sendiri.

Aplikasi juga dapat memantau harga di tingkat peternak, sehingga konsumen tahu bahwa sebenarnya hari itu harga telur sedang naik atau turun. Dengan cara ini, pengecer telur tidak akan semena-mena menetapkan harga telur karena konsumen tahu kapan harga naik kapan turun. Bahkan ibu-ibu arisan bisa langsung mengkordinir pesen telur ke peternak agar mendapat harga yang riil.

Di sini ada masalah jalur informasi. Yang harus dijaga adalah harus ada jalur antara konsumen dengan peternak, meskipun setelah itu tersalur ke distributor.
jadi konsumen tahu harga ayam dan telur di kandang.

Nah tiap hari info harga bisa muncul di aplikasi android. Jadi konsumen tahu bahwa yang harus dibayar adalah harga di kandang plus sekitar 20%. Tak peduli belinya dari retailer yang mana.

Dengan cara ini proses distribusi dari kandang tidak melawati 5-7 rantai sebagaimana yang terjadi sekarang (peternak, pengumpul, pengepul, pedagang pasar, warung/pengecer, konsumen), namun cukup dari peternak, pengumpul, pedagang, pengecer atau peternak -pengumpul, pengecer)

Mungkinkah terjadi gejolak sosial? Bisa jadi, itulah resiko teknologi baru. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan sosialisasi ke pelaku usaha perdagangan komoditi yang baik sehingga mereka bisa menyesuikan bisnisnya.

Mari kita bayangkan jika harga ayam di tingkat konsumen mengikuti harga di kandang, maka ketika harga telur di kandang 13 ribu, harga di konsumen Rp 15.600/kg atau dengan kata lain satu butir telur hanya seribu rupiah, lebih mudah dari krupuk yang harganya Rp. 2.000.
kalau harga semurah itu, maka konsumen bisa meningkatkan pembelian telur, sehingga konsumsi telur meningkat, dan harga telur akan bisa kembali ke normal.

Jika aplikasi ini berhasil, maka bisa diterapkan untuk komoditi lainnya yang selama ini gejolaknya tinggi, misalkan harga cabe, buah-buahan dan yang lainnya.

Begitulah kira-kira gagasan saya. Bagaimana pandangan anda?




12 comments:

  1. Sore pak Bambang. Good idea. Akan tetapi menurut saya perlu dipertimbangkan bagaimana mengkoordinasikan pihak2 yang terkait. Siapa yg akan mengcover budgeting aplikasinya dan bagaimana efek terhadap market terutama pasar becek.


    Best regards

    Irland

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih pak irland. Ya itu perlu dipikirkan. tadi seorang kepala SMK tertarik dengan ide ini. Mungkin bisa dimatangkan oleh anak-anak muda SMK yang pintar IT khususnya aplikasi, terus diujicoba dalam lingkungan terbatas. kalau hasilnya menguntungkan, tinggal dipikirkan pembiayaannya. idealnya ya pemerintah. Namun menjadi sebuah institusi bisnis berbasis IT juga memungkinkan karena semakin banyak pengguna aplikasi semakin berpotensi dapat iklan, dan sumber lainnya.

      Mestinya market pasar becek tidak terlalu masalah. Mungkin yang akan kena dampak broker yang menguasai penjualan komoditi di area tertentu.

      Delete
  2. bisa pak Bambang, produsen tidak akan dirugikan, seperti halnya tukang ojek (go jek)akan diuntungkan kalau konsumen bayar dengan menggunakan go pay... dan seterusnya... karena metode ini akan memotong rantai tataniaga yang tdk efisien dan juga memotong penumpang gelap...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih dukungan pak Rochadi.

      Delete
    2. Mohon dukungan pak rochadi, mudah-mudahan bisa direalisasikan

      Delete
  3. Menurutku sih belum saatnya,
    Pertama: karena komoditi ayam dan telur sangat mudah di dapat. Di tempatku, bakul ayam keliling sehari ada tiga, kita tinggal pilih mau nyegat yg jam berapa. Belum lagi bakul warung juga ada dua yg sedia ayam, apalagi telur.
    Kedua: ibu-ibu kalo beli ayam (sepertinya) lebih utama karena mau curhat dg teman-temannya sesama pembeli, mereka dapat info terakhir tentang kondisi kampung atau tetangga, tentang anaknya Bu barokah yg baru opname, tentang lek kodri yang motornya dicabut dealer karena tak kuat nganggur, tentang Bu taryamah yang habis selamatan tujuh hari suaminya tapi isi beseknya cuma sarimi dan telur.
    Nah, keinginan untuk ngrumpi bersama tetangga itu tersalurkan di bakul sayur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentunya Jakarta beda dengan batang dan daerah lainnya.
      Tapi apa yang disampaikan Pak waeyanto memang benar di beberapa daerah orang belanja adalah untuk sosialisasi.
      Namun di jakarta dan kota besar lainnya, orang beli makanan dengan aplikasi gopay, Grabfood dll sudah sangat biasa dan perkembangannya sangat pesat.
      Beberapa supermarket dan minimaret juga jualan secara semi online. Mereka pesen via online tapi barang diambil sendiri. jadi ke supermarket hanya ngambil belanjaan, tidak masuk ke area supermarket karena makan waktu dan cenderung tergoda belanja di luar rencana.

      Namun fokus saya bukan pada itu, tapi pada kepedulian tentang perbedaan harga di konsumen dengan di petani/peternak yang sering tidak seimbang. Kerap kalu harga di peternak jatuh, di konsumen tidak berubah. Salah satu penyebabnya, konsumen memang tidak tahu sedang terjadi kemerosotan harga di peternak.
      Bahkan pemilik warung makan yang membeli dalam jumlah besar pun tidak tahu fluktuasi harga yang terjadi di kandang.

      demikian

      Delete
  4. pastinya akan ada gejolak penolakan besar-besar an dari para tengkulak/agen/distributor/pengepul, krn harga sudah terbuka dengan jelas, sehingga banyak memutus mata rantai basah yg ada. Menurut sy, hal2 sepertinya, sudah seharusnya pemerintah, baik yg di daerah maupun yg dipusat, untuk mau jadi penanggungjawab dengan perundang - undangan nya yang jelas. hal ini bukan seperti telur saja, kebutuhan pokok lainnya pun, harus nya sudah di akomodir oleh pemeerintah, harga gabah, harga beras dan bahan sembako lainnya. Jika terwujud, pemerataan kesejahteraan ekonomi akan terwujud secara adil. Pada dasarnya, bila pemerintah yg menetapkan, siapa lagi yg bisa menolak, tinggal pemerintah, berani atau tidak? Pro rakyat atau Pro Pengusaha? itu saja klw menurut saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yth toko Obat Herbal.
      Terima kasih atas pandangan anda. Saya sependapat tentang harapan anda terhadap pemerintah. Diharapkan pemerintah bisa menggunakan teknologi ini untuk memangkas inefesiensi tata niaga.
      Karena cara konvensional sangat sulit direalisasikan karena mungkin banyak interest di dalamnya.
      tentang gejolak, ya itu bagian dari resiko sebuah keputusan.

      Delete
  5. sip pak bambang, secara alur bakal aplikasi sangat di fahami dan memang ideal sepert itu, sangat meminimalisir permainan harga, ini berlaku untuk produk apa saja, sehingga petani/peternak/agen/distributor/pengecer, semua dpt keadilan harga... namun cara buat aplikasi, ga ngerti pak...hehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yth Bapak Usaha kemitraan.
      ya soal pembuatan kita serahkan ke ahlinya saja hehe

      Delete