Wednesday, July 13, 2016

Catatan Hari Koperasi

Sabtu 25 Mei lalu saya ke koperasi agro niaga di Jabung Malang diantar mobil rental dari Bandara Abdurahman Saleh Malang. Suasana di halaman koperasi tampak ramai. 
" Mau ketemu siapa pak?" Tanya petugas security dengan ramah. "Dengan bu Eva pak. Saya sdh janji jam 9," jawab saya singkat.

Bersama pengurus Koperasi Agro Niaga (KAN) Malang
"Pak Bambang ya? Silakan pak, langsung ke lantai 2 gedung sebelah kiri,"
Saya terkesima dg respon security. Saya merasa sedang di sebuah perusahaan semacam perbankan yg sistem prosedurnya sangat rapih. Sama sekali tidak merasa di kecamatan Jabung Malang.
Selidik punya selidik. Koperasi ini sudah bersertifikat ISO 9001. Wow, luar biasa.

"Ramai sekali pak. Lagi acara apa? " tanya saya penasaran.
"Hari ini jadwal pembayaran susu pak", jawabnya. Lantas ia menjelaskan, pembayaran susu ke anggota sebulan dua kali. Ia juga menunjukkan satu ruang yg sedang acara training manajemen untuk karyawan .
Selanjutnya saya mendapat cerita seru dari Bu Eva selaku manager koperasi didampingi ketua Koperasi Wahyu dan beberapa ketua koperasi yg lain.
Dibanding koperasi SAE Pujon yg juga di Malang, KAN kalah populer, setidaknya untuk orang Jakarta. Namun begitu masuk ke sana dan mendalami kiprahnya di wilayah Malang, barulah saya berdecak kagum pada para pengurus dan manajemen koperasi yang penuh dedikasi untuk mengembangkan koperasi sebagai lembaga yang mengangkat kesejahteraan masyarakat.



Koperasi ini semula KUD yang dikelola model orde baru yg bisa dibilang kurang inovatif, hanya mengerjakan tugas sesuai perintah para pembina, yakni pemerintah.
Pasca krisis ekonomi 98, Para pengurus berdiskusi bagaimana mengembangkan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Jabung adalah daerah miskin. Dari 15 desa, 10 desa masuk kategori desa tertinggal. Sulit dibayangkan ada model kegiatan yg mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Satu-satunya yg memungkinkan adalah koperasi.

Tahap awal koperasi ini menggerakkan kegiatan usaha tebu. Berikutnya kegiatan usaha sapi perah.
Di kala usaha sapi perah di tempat lain cenderung turun, usaha KAN justru berkembang.
"Usaha tebu membutuhkan lahan luas, sedangkan sapi perah bisa di rumah. Jadinya banyak buruh tebu dan buruh tani mencoba belajar sapi perah. Kami bimbing mereka dari nol ,"urai Wahyu.
Kini anggota KAN sekitar 2200 orang dengan jumlah sapi 8 ribu ekor sapi induk.
Sebanyak 1900 anggota adalah peternak sapi, sisanya usaha tanaman tebu.
Anggota bukan hanya dididik sebagai peternak tp juga sebagai pelaku usaha yg mampu mengelola hasil usahanya agar produktif.
Untuk memenuhi kebutuhan anggota akan rumah yang bagus, koperasi ini mengembangkan kegiatan usaha toko bangunan, berikutnya disediakan bengkel motor untuk anggota. Dan juga didirikan Baitul Maal untuk anggota yg butuh modal usaha.

" Mulai tahun 2000an koperasi ini mengembangkan diri secara modern. Dulu anggota ke sini harus naik ojek, sekarang sudah pada punya sepeda motor. Biasanya kalau ambil bayaran susu, bisa sambil service motor ke bengkel yang lokasinya di kawasan ini juga," urai Wahyu.

Boleh dibilang sekarang tak ada lagi desa miskin. Usaha sapi perah telah membuat gairah ekonomi yang dinamis. Usaha ini menggerakkan sektor lain termasuk usaha tanaman tebu. Berkat sapi perah pucuk tebu bermanfaat untuk pakan sapi. Sebaliknya usaha sapi menjadi lebih efisien berkat pakan dari pucuk tebu yg lebih murah. Begitu pula kotoran sapi, bermanfaat untuk pupuk tanaman tebu.
tak kalah hebatnya, kotoran sapi juga telah diolah menjadi biogas yang bermanfaat untuk keperluan rumah tangga petani ternak.

Susu yang dihasilkan anggota kini tidak lagi tergantung pada satu industri pengolahan susu, melainkan beberapa industri. Bahkan KAN juga sudah mulai mengembangkan usaha pengolahan susu meski baru mampu menyerap kurang dari 10% dari total produksi anggota .

Berkat prestasinya, sejumlah penghargaan diterima KAN baik dari lembaga pemerintah dan swasta, dalam negeri maupun luar negeri.

"Apa dengan dana yang hanya 7% dari harga jual susu, koperasi bisa membiayai semua kegiatan operasional?" tanya saya penasaran.

"Tidak bisa pak. Itu sebabnya kami mengembangkan kegiatan lain termasuk menjual pakan ke peternak non anggota," kata Eva.

"Inovasi kegiatan itulah yg membuat kami bisa berkembang dan bisa membayar karyawan dengan layak bahkan memberi beasiswa untuk karyawan berprestasi yang akan melanjutkan ke jenjang kuliah S1 dan S2,"jelas Wahyu yg telah selesai S2 berkat beasiswa dari koperasi.

Sungguh di luar dugaan, ternyata di kecamatan yang semula miskin, berkat koperasi sapi perah KAN, kini daerah tersebut memiliki aset sebanyak 8.000 ekor sapi perah produktif. Jika satu ekor nilai nya Rp 20 juta, berarti ada asset Rp 160 miliar. Ini belum termasuk pabrik pakan, bengkel, toko dan sebagainya yang menjadi milik bersama melalui koperasi.

Jika Anda masih berpikiran bahwa koperasi hanya memperkaya segelintir orang. Atau Anda berpikir bahwa koperasi tidak bisa menyejahterakan anggotanya. Atau koperasi hanya nama saja, kegiatannya hanya sekedar ada kegiatan, maka Koperasi yang saya kunjungi ini sama sekali jauh dari persepsi itu.
Dan saya yakin di negeri kita masih banyak koperasi yang bagus sesuai harapan bapak koperasi Moh Hatta.

Koperasi tidak berkembang antara lain karena kita sendiri yang tidak mau ikut berperan mengembangkannya. Kita tak peduli akan perlunya koperasi, bahkan antipati terhadap kegiatan Koperasi. 

Wahai kawan, masih ada kesempatan untuk berkarya untuk negeri ini melalui koperasi.
Selamat Hari Koperasi 12 juli 2016.


No comments:

Post a Comment