Wednesday, October 14, 2015

Berpikir Kritis



Prof. David Beng, seorang peneliti dari Boston University USA, telah  melakukan riset selama 5 tahun untuk mengetahui khasiat berbagai macam daun tanaman tropis. Hasil risetnya telah dipublikasikan di Journal of Human Medicine yang terbit awal tahun 2015 ini, dan artikel hasil risetnya itu cukup menghebohkan dunia pengobatan khususnya pengobatan penyakit kanker.
Dalam laporan  risetnya, David Beng mengemukakan bahwa daun singkong asal negara tropis memiliki kandungan zat yang mampu meredam  proliferasi sel kanker. Itu sebabnya ia kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat negara tropis yang suka makan daun singkong, jarang yang terkena penyakit kanker. Ia menyarankan daun singkong sebaiknya cukup direbus saja lalu dimakan, tidak perlu dibuat sayur, agar khasiat anti kankernya lebih optimal. Makan daun singkong dua hari sekali akan mampu menghambat tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

Percayakah Anda dengan tulisan di atas? Itu adalah tulisan saya yang ngawur. Hanya imajinasi saja. Jadi jangan percaya, karena saya tulis hanya sebagai contoh tentang mudahnya membuat berita bohong di ruang publik, dalam hal ini melalui media sosial.
Saat ini kita hidup di era keterbukaan informasi. Setiap hari hari kita mendapatkan berbagai macam informasi melalui broadcast Blackberry, whatsapp, facebook,  twitter dan sebagainya. Broadcast itu pada bagian akhirnya biasanya ada semacam “kata bijak” agar kita segera meneruskan informasi yang belum tentu benar tersebut ke teman-teman kita. Ada yang di akhir cerita ditulis "meneruskan info ini berarti menyelamatkan ribuan orang". ada yang tertulis "indahnya berbagi" dan sebagainya. Jika broadcast itu ada unsur religiusnya, di bagian akhir biasanya ada petuah untuk segera bertindak menyebarluaskan informasi sebagai amal ibadah. 

Padahal apabila disikapi secara kritis, banyak sekali informasi yang beredar itu adalah berita bohong alias Hoax. Bahkan sebagian berupa fitnah terhadap tokoh, industri ataupun institusi. Bisa dibayangkan betapa bahayanya ikut menyebarkan berita bohon, apalagi fitnah. Belum lama ini saya menerima broadcast yang terkesan sangat meyakinkan tentang dialog seorang pasien dengan dokter. Dokter bilang ke pasien, penyakitnya yang berupa kista di rahim adalah akibat suka makan sayap  dan leher ayam , dimana di leher ayam biasa disuntikan hormon yang berbahaya.  Sangat mungkin sudah ratusan ribu orang percaya dengan informasi menyesatkan ini.
Di era keterbukaan informasi, kita perlu lebih kritis menangkap informasi. Ibarat makan, informasi yang beredar itu ada yang berupa makanan bergizi, ada yang tidak bergizi dan ada juga yang berupa sampah dan racun. Karena informasi adalah makanan bagi otak kita, maka kita perlu memilih dan melakukan crosscheck, apakah makanan itu cukup bergizi buat otak kita atau tidak.

Menuntut ilmu hingga perguruan tinggi adalah melatih berpikir kritis. Berpikir kritis mengandung aktivitas mental dalam hal memecahkan masalah, menganalisis asumsi, menguji rasionalitas, mengevaluasi, melakukan penyelidikan, dan mengambil keputusan. Dalam proses  pengambilan keputusan, kemampuan mencari, menganalisis dan mengevaluasi informasi sangatlah penting.  Ciri orang yang berpikir kritis akan selalu mencari dan memaparkan hubungan antara masalah yang didiskusikan dengan masalah atau pengalaman lain yang relevan. 
Menurut Prof. Potter, ada tiga alasan pentingnya keterampilan berpikir kritis dimasa sekarang. Pertama, adanya ledakan informasi. Saat ini terjadi ledakan informasi yang datangnya dari broadcast informasi  dan puluhan ribu website mesin pencari di internet. Informasi dari berbagai sumber tersebut bisa jadi banyak yang ketinggalan zaman, tidak lengkap, atau tidak kredibel. Untuk dapat menggunakan informasi ini dengan baik, perlu dilakukan evaluasi terhadap data dan sumber informasi tersebut. Kemampuan untuk mengevalusi dan kemudian memutuskan untuk menggunakan informasi yang benar memerlukan keterampilan berpikir kritis. Oleh karena itu, maka keterampilan berpikir kritis sangat perlu dikembangkan masyarakat.

Ketidak mampuan berpikir kritis, menyebabkan banyak orang percaya pada berita bohong. Kita lihat , banyak orang seenaknya menuduh seorang tokoh sebagai antek komunis, antek liberalisme ataupun penjahat perang.

Kedua, adanya tantangan global. Saat ini terjadi krisis global yang serius. Untuk mengatasi kondisi yang krisis ini diperlukan penelitian dan pengembangan keterampilan-keterampilan berpikir kritis.  Berpikir kritis bukanlah berpikir negatif, justru sebaliknya, berpikir kritis dapat menggali informasi lebih dalam. Ketiga, adanya perbedaan pengetahan warga negara. Sejauh ini mayoritas orang di bawah  25 tahun sudah bisa meng-online-kan berita mereka. Beberapa informasi yang tidak dapat diandalkan dan bahkan mungkin sengaja menyesatkan, termuat di internet.

Berpikir kritis bukan hanya untuk informasi di dunia maya. Berulangnya kasus penipuan investasi yang jelas-jelas tidak masuk akal,  beredarnya berita tahayul, penipuan berkedok undian berhadiah adalah sedikit contoh akibat masyarakat kita belum bersikap kritis terhadap informasi. (Bambang Suharno)***