Friday, March 13, 2015

Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Daya Saing Kita

Dalam sebuah diskusi dengan kalangan pelaku bisnis peternakan unggas, saya bertanya kepada seorang peternak, "apakah Anda bisa memelihara ayam dengan standar produksi yang sama dengan yang dilakukan oleh Peternak Thailand?"

Jawabnya dengan mantap," Ya, bisa. kalau di Thailand satu meter persegi menghasilkan ayam hidup 10 kg dalam 25 hari, saya bisa. Kalau di Thailand konversi pakan 1,8, saya bisa. Bukan hanya Thailand, mau diadu dengan negara lain dengan parameter teknis yang sama, kami siap".

"Lho, kalau begitu kita nggak usah takut globalisasi dong, apalagi MEA (masyarakat Ekonomi ASEAN," kata saya.

"Ya, seharusnya tidak, karena setiap teknologi baru di   bidang peternakan, kita bisa langsung mempraktekannya. yang jadi masalah adalah faktor-faktor di luar urusan peternak. Misalnya rantai pemasaran yang panjang, biaya distribusi yang lebih mahal, bahan baku pakan lebih mahal. Juga pungutan-pungutan yang nggak jelas,"urainya berapi-api.

Sementara itu di beberapa forum yang membahas daya saing Indonesia, para pejabat dan birokrat berulang-ulang berbicara soal indeks kualitas SDM, dimana Indonesia pada posisi yang rendah. Untuk mengukur indek kualitas SDM ini digunakan parameter antara lain tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Melalui ukuran indeks SDM ini, lantas mereka--para pakar--menjadi memaklumi bahwa Indonesia layak kalah dengan negara tetangga. Karena para pakar memaklumi jika kita kalah bersaing, maka psikologis masyarakat menjadi kalah, menjadi pemegang "mental kalah" bukan mental pemenang.

Sangat disayangkan pula bahwa dalam analisa itu disampaikan, karena peternak rata-rata tingkat pendidikannya rendah, maka tidak mampu bersaing dengan peternak negara lain.

Semestinya kita memilah dulu peta persaingan. Di bidang peternakan unggas, permasalahan utamanya justru bukan di tingkat pelaku budidaya alias peternak. Mereka sudah mampu beternak sekelas peternak luar negeri. Bahkan bisa lebih efisien dari mereka. Soalnya adalah faktor di luar itu.

Jadi gimana? Menurut saya, yang utama adalah pemerintahnya, di pusat maupun di daerah. Apakah mereka bisa mengambil terobosan agar bahan baku pakan melipah dan harganya bersaing dengan bahan baku impor. Apakah pemerintah bisa lebih kreatif dalam membuat kebijakan yang mendorong rantai pemasaran dari kandang ke konsumen lebih efisien. Apakah infrastruktur khususnya jalan dari kandang ke konsumen bisa dijamin tidak rusak, sehingga lebih lancar dan tingkat kerusakan dan kematian ternak di perjalanan menurun?

Jika itu semua bisa dilakukan, peternak siap bertanding di laga ASEAN.

Oya, tahun lalu saya berkunjung ke acara pameran peternakan di Perancis (SPACE 2014) . Saya berkesempatan berkunjung ke peternakan sapi dan ayam. Perjalanan dari kota Rennes (tempat pameran) ke peternakan ditempuh dalam waktu 1 jam, dengan bus ukuran besar. Jalannya halus mulus tanpa lubang, sampai di halaman peternakan. Bagaimana dengan jalan menuju peternakan kita?

Jangankan ke peternakan, jalan menuju perumahan di tengah kota saja banyak yang hancur hehehe.

Tetang semangat.


Wednesday, March 11, 2015

Mau Jadi Driver atau Passenger?



Sejak usia muda para pemimpin bangsa telah belajar hidup mandiri, bahkan diajarkan oleh orang tuanya agar tidak menjadi anak manja atau jadi anak rumahan yang hanya belajar untuk mendapat nilai ijazah semata. Mereka diajak keluar untuk menghadapi berbagai tantangan.

Proklamator RI Soekarno salah satu contohnya. Ia tinggal sebentar dengan ayah bundanya di Blitar, kemudian tinggal bersama kakeknya di Tulung Agung, lantas pindah ke Mojokerto agar bisa melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School (ELS).

Ketika melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya, Soekarno menumpang di rumah pimpinan Syarekat Islam HOS Tjokroaminoto. Saat di sekolah menengah itulah tahun 1918 ia mendirikan organisasi pemuda Jawa (Jong Java).
Lulus dari HBS Soekarno pergi ke Bandung melanjutkan kuliah di ITB yang saat itu bernama Technische Hoge School. Di kota ini ia tinggal di rumah Haji Sanusi yang merupakan kerabat HOS Tjokroaminoto. Ia diperkenalkan dengan tokoh nasional Ki Hajar Dewantara, Tjiptomangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker. Interaksi inilah yang membedakan Soekarno dengan mahasiswa pada umumnya. Maka tak mengherankan, ketika lulus, ia terlibat dalam gerakan-gerakan yang bermuara pada perjuangan merebut kemerdekaan. Ia mendirikan beberapa organisasi, salah satunya yang paling fenomenal adalah Partai Nasional Indonesia (PNI)

Tatkala meraih gelar insinyur, Soekarno tidak memlilih bekerja di pemerintahaan Belanda dengan gaji yang memadai, melainkan memilih untuk melawan kolonialisme.
Ibarat naik kendaraan, Soekarno tidak memilih menjadi penumpang yang bisa bersantai, namun ia memilih menjadi driver dengan segala resikonya. Sebagai pengemudi ia tak boleh tidur, bahkan kantuk sejenakpun berbahaya.
Prof. Renald Kasali dalam bukunya “ Self Driving” mengatakan, bangsa yang hebat adalah “a driver nation”. Terbentuknya driver nation adalah hasil dari pribadi-pribadi yang  bermental “driver” yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan. Para pemimpin di driver nation sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.

Kata Renald, driver adalah sikap hidup yang membedakan dengan sikap “passenger” (penumpang). Anda tinggal pilih , ingin duduk manis sebagai penumpang di belakang atau mengambil resiko sebagai driver di depan? Di  belakang anda boleh duduk sambil ngobrol, makan, bercanda bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tidak harus tahu jalan, tidak perlu memikirkan keadaan lalu lintas dan tak perlu merawat kendaraan.
Sebaliknya seorang driver bisa hidup dimanapun. Awalnya mereka men-drive diri sendiri, kemudian me-drive orang lain, dan pada level seperti Bung Karno dan para pemimpin lainnya, mereka ikut men-drive bangsa.
Betapa banyak mental penumpang di sekitar kita agaknya membuat Renald cukup resah. Dalam situasi baik pun mereka gampang mengeluh, mengkritik organisasi di kantornya, mengkritik para pemimpin bahkan mencaci maki presiden tanpa data yang jelas.
Mereka tidak mengambil bagian sebagai komponen yang melakukan perubahan, melainkan hanya sebagai penumpang saja.

Keberhasilan Indonesia lepas dari jerat penjajahan adalah karena muncul pada pelajar dan mahasiswa waktu itu tampil sebagai driver. Seandainya mereka memiliki sikap penumpang, niscaya para kaum terpelajar lebih memilih menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan fasilitas yang jauh lebih baik dari rakyat pada umumnya. Dan sangat mungkin Indonesia tetap menjadi bangsa terjajah.

Membaca buku karya Self Driving, saya langsung melihat sekeliling. Kaum muda semakin banyak yang menikmati kemanjaan menjadi mental penumpang. Orang tua mereka sangat protektif. Mengantar jemput di sekolah sejak TK hingga SMA. Mereka dicarikan tempat kost ketika kuliah di luar kota dan diberikan fasilitas lengkap. Dicarikan pekerjaan ketika lulus. Bahkan tak sedikit orang tua ikut terlibat dalam karir anaknya. Orang tua modern ini mengawal dan menjadi driver bagi kehidupan anaknya.
Sementara itu di dunia pendidikan, mereka diajari untuk menghafal pelajaran, bukan memecahkan masalah kehidupan. 

Kemanjaan ini jika diteruskan akan semakin membuat masyarakat didominasi oleh mental penumpang. Tak mengherankan jika situasi ekonomi makin banyak didominasi produk impor. 

Sikap driver bukan hanya penting bagi aktivis politik dan birokrasi, namun juga para pimpinan dan karyawan perusahaan. Dunia usaha menghendaki manusia-manusia berkarakter driver yang berkompetensi, cekatan, gesit, berinisiatif dan kreatif. 

Artikel ini disusun Bambang Suharno dan telah dimuat di Majalah Infovet edisi Januari 2015