Tuesday, September 17, 2013

Impor Daging dan Pengabaian Terhadap Segitiga Emas Peternakan



Ilmu paling mendasar bagi calon insinyur peternakan adalah segitiga produksi peternakan. Ibarat belajar kenegaraan, segitiga produksi setara dengan  pancasila sebagai “dasar negara”. Artinya “dasar negara” bagi Republik Peternakan adalah segitiga produksi.



Materi “dasar negara” ini demikian sering diulang di berbagai matakuliah dan forum diskusi sehingga lama-lama banyak yang menjadi bosan membahas materi ini.  Sama bosannya mendiskusikan Pancasila dalam berbagai Penataran P4 era orde baru. Para dosen pun tampaknya menyampaikan pengetahuan ini secara normatif saja tanpa menjiwai apalagi mengelaborasi dalam kondisi aktual negara Republik Peternakan Indonesia.



Segitiga produksi menggambarkan segitiga sama sisi yang merupakan aspek paling penting dalam budidaya peternakan. Ketiga aspek tersebut adalah breeding (pembibitan), Feeding (pakan) dan manajeman (tatakelola usaha). Saya menyebutnya sebagai segitiga emas peternakan.



Jika salah satu aspek nilainya meningkat, maka aspek lainnya harus mengikuti. Misalkan dalam  nilai genetik ternak ayam meningkat, maka kualitas pakan juga harus meningkat dan manajemen pun harus lebih baik sesuai nilai genetiknya. Sebaliknya, dengan pakan yang sebagus apapun dan pemeliharaan yang paling hebat pun, jika  ayam yang dipelihara kualitas genetiknya rendah, maka pemberian pakan dan perlakukan budidaya akan menjadi pemborosan dan kesia-siaan.



Maka dari itu ayam ras petelur dengan kemampuan bertelur 300 butir/tahun membutuhkan pakan dengan kandungan gizi yang lebih berkualitas  dan  sistem budidaya yang lebih rumit dibanding ayam kampung yang  kemampuan bertelurnya hanya 100 butir per tahun.



Untuk memelihara ayam kampung tidak membutuhkan persyaratan kandang yang memakan biaya banyak, bahkan ayam kampung bisa hidup dengan kondisi berkeliaran. Sebaliknya ayam ras membutuhkan kandang dengan suhu dan kelembaban tertentu, cara pemberian pakan tertentu  dan berbagai syarat lainnya yang biasanya ditetapkan oleh breeding farm.  Dengan kondisi kualitas genetik ayam ras yang makin meningkat, bahkan sekarang makin banyak pelaku budidaya peternakan berinvestasi miliaran rupiah untuk jenis kandang Closed House (kandang tertutup) karena dengan teknologi kandang ini, kebutuhan genetik ayam ras bisa dipenuhi dengan sebaik-baiknya.



Sayangnya implementasi teori ini baru sebatas tataran mikro di kalangan pelaku usaha. Padahal teori ini perlu diperluas jangkauannya dalam wilayah kebijakan pemerintah sebagai penanggungjawab manajemen makro peternakan.



Mari kita telaah k asus yang paling aktual, yaitu gonjang-ganjing harga daging akibat kekurangan pasokan dari peternak. Meningkatnya impor sapi bakalan dan impor daging sapi apabila ditelusuri tak lepas dari pengabaian terhadap segitiga emas peternakan.



Pada tahun 1975 Indonesia masih bisa mengekspor sapi ke Singapura, namun menjelang akhir 80an tidak lagi bisa ekspor dan di awal 1990an mulai impor sapi bakalan dan impor daging.

Kejadian ini diawali dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan kebutuhan daging sapi meningkat. Dirjen Peternakan di era Dr Soehadji waktu itu mengakui bahwa pertumbuhan permintaan daging mencapai 7-10% per tahun sedangkan pertumbuhan persediaan daging sapi lokal dengan segala keterbatas biologisnya hanya mampu tumbuh 4%/tahun.



Kekurangan itu dipenuhi dengan impor sapi bakalan dan daging sapi.  Secara  genetic bibit sapi lokal tak mampu memenuhi pertumbuhan permintaan, sehingga perlu upaya untuk meningatkan mutu genetiknya.  Genetic improvement dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Pembibitan Ternak yang dibangun pemerintah di beberapa daerah.  Tampaknya konsep pengembangan bibit sudah dirancang sejak Dirjen Prof Hutasoit tahun 1970-80an melalui pembangunan Balai pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT HMT) sebagai wujud visi pimpinan waktu itu yang sangat memahami semangat Dasar Negara Republik Peternakan.



Sayangnya visi ini kurang ditangkap oleh pelaksana kebijakan di level bawah. Balai pembibitan lebih berfungsi  sebagai tempat recording produktivitas sapi, sementara Balai Hijauan Makanan ternak lebih banyak berperan sebagai tempat mengoleksi potensi bibit hijauan  saja.



Alhasil 30 tahun kemudian yang semestinya sudah ada hasil dari peningkatan mutu genetik, belum tampak hasilnya.



Jalan yang ditempuh adalah melakukan impor sapi bakalan. Berbeda dengan dibidang unggas dimana masyarakat perunggasan mengimpor bibit unggas dan menolak keras impor daging ayam, di usaha peternakan sapi, impor daging sapi diperbolehkan. Alasan yang mengemuka saat itu karena ada segmentasi market, dimana impor daging hanya untuk konsumen tertentu yang membutuhkan daging kualitas atas.



Kebijakan pemerintah di era 90an dengan konsep Tiga Ung cukup menggambarkan pola pengendalian agar segitiga emas peternakan tidak terabaikan.  Konsep Tiga Ung dicanangkan di Lampung sehingga dikenal dengan Gaung dari Lampung.



Makna Tiga Ung adalah, sapi lokal sebagai tulang punggung, impor sapi bakalan dengan pendukung dan impor daging sebagai penyambung . Maknanya adalah impor sapi bakalan hanya dilakukan jika sapi local tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Impor inipun diatur agar melalui proses penggemukan selama 3 bulan di dalam negeri sehingga ada semangat menciptakan lapangan kerja dan proses belajar budidaya yang menerapkan kaidah tatakelola yang modern. Pelaku feedloter (penggemukan sapi) dilarang keras mengimpor sapi siap potong.  Impor sebagai penyambung dilakukan karena kebutuhan daging kelas tertentu, bukan impor daging yang dapat mengganggu harga daging sapi hasil peternakan rakyat.



Kini konsep ini dilupakan, bahkan mungkin pengambil kebijakan saat ini tidak tahu menahu soal visi dan  semangat didirikannya Balai pembibitan ternak, dan konsep Gaung dari Lampung.  Dan sangat mungkin sengaja atau tidak sengaja telah terjadi pengabaian terhadap dasar negara republik peternakan yang disebut segitiga emas peternakan.



Hal ini bisa kita lihat saat ini. Kebijakan impor sapi siap potong untuk memenuhi kebutuhan lebaran yang terbukti tidak efektif. Pengambil kebijakan dalam hal ini Menteri Perdagangan tidak paham mekanisme distribusi daging. Ia menyederhakan masalah bahwa dengan impor banyak harga otomatis harga turun. Faktanya tidak sesederhana itu. Jika impor tidak didukung jalur distribusi , dapat terjadi, harga tidak turun namun ada daging yang tidak laku. Itu yang terjadi di lebaran tahun ini.



Singkat kata, untuk memperkokoh republik peternakan, kebijakan pemerintah yang  utama dalah menjalankan “dasar negara” berupa segitiga emas. Pemerintah harus kembali ke dasar (back to basic) dengan mendata keragaman bibit sapi di Indonesia, mendata potensi sumber pakan di berbagai wilayah, tahap berikutnya mengembangkan kualitas dan kualitas bibit dan sumber pakan, dan selanjutnya pola budidaya secara bertahap ditingkatkan melalui penguatan SDM peternakan mulai program pelatihan yang berkesinambungan.  



Proses ini membutuhkan kebijakan jangka panjang dan perlu kesabaran, karena hasilnya baru akan kelihatan 20-30 tahun lagi. Dibutuhkan proses alih generasi yang baik agar visi pemimpin bisa diteruskan kepada penggantinya. Sayangnya di era demokratisasi sekarang ini tengah terjadi politisasi birokrasi yang mengancam kelanggengan sebuah visi jangka panjang.***
 


Bambang Suharno, Sarjana Peternakan

Friday, September 6, 2013

JIKA JADI ENTREPRENEUR MASIH RAGU, JADILAH INTRAPRENEUR

Untuk menjadi negara yang maju dan punya daya saing kuat, sebuah negara harus memiliki mininal 2% penduduknya menjadi entrepreneur. Saat ini jumlah entrepreneur di Indonesia baru 0,8%. Demikianlah pandangan tokoh entrepreneur Ciputra yang sering dikutip oleh para pakar dan pelaku bisnis.

Namun beberapa kawan melihat gelagat yang berbeda. Saat ini hampir semua orang menjadi "entrepreneur" dengan berbagai skala usahanya. Mau usaha jualan pulsa, eh ketemu orang nawarin pulsa juga. Mau buka warung sembako, begitu lihat kanan kiri, hampir setiap belokan ada warung sembako. Mau bisnis kuliner, di sepanjang jalan banyak usaha kuliner, dan sebagian tidak dapat bertahan karena persaingan begitu ketat. Mau jualan baju di kantor, sudah banyak sekali yang melakukan. Mau menawarkan peluang bisnispun, yang ditawarin sudah menyiapkan peluang bisnis yang mirip bahkan persis sama. Mau bisnis ini itu, kelihatannya sudah dilakukan begitu banyak orang. Dalam pandangan ini, jumlah entrepreneur bukan 0,8% tapi 80%.

Nyali makin ciut pula melihat dan mendengar si A habis duit sekian puluh juta gara-gara nekat bukan warung. Si B "sukses" ditipu mitra kerjanya yang baru dikenal sekian bulan. Si C bisnisnya lancar tapi mendadak uangnya dibawa kabur karyawan.

Meskipun di media cetak dan elektronik banyak info profil orang sukses, tak mampu membujuk pikiran yang sudah termakan informasi yang dilihat sehari-hari berupa berjubelnya pelaku usaha, khususnya usaha skala mikro.

Ada pula orang yang ragu memulai usaha sampingan karena, takut bisnisnya tidak bisa jalan, takut uangnya habis, meskipun ia tahu memang seperti itulah resiko yang harus ditanggung.

Ada Cara Yang lebih Smart; Intrapreneur

Jika anda termasuk yang seperti disebutkan di atas, ada jalan yang bisa anda lakukan, yaitu menjadi intrapreneur. Hasil dari intrapreneur tak kalah keren dengan entrepeneur.

Sejatinya, intrapreneur kalau dilihat dari sisi mental, sama dengan entrepreneur. Bedanya, entrepreneur memulai usaha sendiri dan menjadi milik sendiri, sedangkan intrapreneur adalah seorang inovator di dalam perusahaan.

Seorang karyawan yang melihat peluang bisnis yang bisa dikembangan oleh perusahaan dimana dia bekerja, dapat membuat sebuah divisi baru yang mendatangkan sumber penghasilan baru bagi perusahaan dan bisa menjadi sumber kenaikan penghasilan bagi karyawan tersebut.

Bukan hanya itu, seorang sarjana baru, tidak usah melamar kerja, bikin saja proposal kegiatan di yayasan, organisasi massa, atau perusahaan dimana kegiatan itu mendatangkan profit bagi lembaga. Saya yakin banyak yang akan menerima gagasan anda. Syaratnya, anda mau merintis dengan gaji yang mungkin tidak besar. Nah, peluang yang anda peroleh adalah anda bisa memiliki "saham" di kegiatan baru tersebut. Hak ini bisa dinegosiasikan. Hebatya lagi, anda tidak menanggung resiko finansial jika bisnis yang anda rintis kurang berhasil. Paling ya, diketawain saja hehe.

Banyak orang sukses yang dimulai dengan menjadi intrapreneur. Biasanya diawali dengan melakukan presentasi gagasan. Awalnya gagasan ditertawakan atasan atau rekan sekerja, tapi kegigihan akan dapat meluluhkan orang yang mengejek. Ketika dicoba dan berhasil, barulah orang melihat siapa anda.

Anda mau contoh orang-orang yang hebat yang dimulai dari intrapreneur? Tak usah saya sebutkan, cari di google juga banyak.

Thursday, September 5, 2013

MENYELESAIKAN PERTANDINGAN


 
John Stephen Akhwari  

Dalam dunia kompetisi termasuk di dunia olah raga, sang pemenang adalah bintang yang senantiasa dijadikan teladan dan idola bagi masyarakat. Mereka adalah simbol kerja keras, simbol pantang menyerah dan simbol kesuksesan. Itu hal yang lumrah.

Hal yang berbeda terjadi di arena olimpiade bulan oktober 1968.  Seorang pelari yang kalah, bahkan menjadi pelari “paling lambat” di kelasnya dibanding para pesaingnya, justru menjadi inspirator keberhasilan bagi dunia. Waktu itu berlangsung nomor lomba  lari marathon di stadion olimpiade Mexico City. Lebih dari satu jam sebelumnya pelari Ethiopia Mamo Wolde sudah mencapai garis finish dan sudah disahkan sebagai juara, tapi sebagian penonton masih setia menunggu pelari terakhir asal Tanzania yang bernama John Stephen Akhwari. Hari mulai gelap dan dingin.

Saat yang dinanti-nanti penonton olimpiade itu akhirnya tiba. John lari terhuyung-huyung mencapai garis finish dalam kondisi kaki berdarah akibat luka. Orang bersorak-sorai dan bertepuk tangan melihat semangat John untuk tetap menyelesaikan pertandingan itu. Sebagian penonton tak kuasa menitikan air mata.

Di arena ini, meski Juara olimpiade Mamo Wolde, tapi John Stephen Akhwari tak kalah populer. Bukan karena ia berada di paling belakang, melainkan karena kegigihannya untuk mencapai garis finish dengan keadaan berdarah-darah (dalam arti sebenarnya). Ia disanjung seperti pahlawan perang yang tetap maju melawan musuh sampai titik darah penghabisan.

Wartawan mengerubuti John dan sudah pasti pertanyaannya adalah “Mengapa John yang sudah pasti kalah dan dalam keadaan berdarah-darah tetap menyelesaikan lari hingga garis finish?”

Dengan peluh di sekujur tubuh dan luka yang berdarah, John menjawab, "Negara saya tidak mengirim saya untuk mendapat medali, melainkan untuk menyelesaikan pertandingan"

***
Inspirasi kesuksesan rupanya bukan hanya datang dari kemenangan, begitu kesimpulan saya membaca cerita di atas. Memang benar kemenangan adalah tujuan, dan untuk itulah ada “sejuta teknik” meraih kemenangan. Sejuta teknik ini tatkala dilaksanakan tidaklah selalu berjalan mulus. Seperti kita mau melakukan perjalanan jauh. Meskipun sudah dipersiapkan segala sesuatunya, kita tidak dapat memastikan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Bisa saja terjadi ban kempes di jalan sepi di tengah malam. Atau bisa saja kehilangan barang ketika istirahat. Itu semua harus disikapi dengan sikap terbaik. Rintangan dalam perjalanan hidup ini juga begitu aneka rupa dan tidak mudah untuk ditebak. Dalam berbisnis, kita berupaya menggali bermacam ilmu agar produk laku di pasaran. Itu juga tidak menjamin barang tersebut langsung laris manis. Kadang ada proses benturan dinding yang memusingkan kepala entah itu penolakan oleh agen, distribusi tidak lancar ataupun penyebab lainnya.


Untunglah, lingkungan kita tidak melupakan orang-orang yang bekerja keras dan tuntas meski belum menghasilkan medali kejuaraan. Coba kita ingat di sekitar kita. Tak sedikit seorang tokoh organisasi yang kalah dalam pemilihan ketua umum, justru mendapat pujian hebat lantaran ia segera mengakui kekalahan dan mendukung program-program pesaingnya yang kini jadi pemenang. Pimpinan yang kalah ini membuat masyarakat sangat menghargainya.

Demikian pula halnya dengan John Stephen Akhwari yang tidak memenangkan nomor lari marathon, namun menunjukan kegigihan untuk menyelesaikan pertandingan. Ia menjadi simbol kegigihan menjalankan tugas hingga tuntas.

John C Maxwell dalam bukunya The Success Journey mengatakan dalam hidup ini tujuan kita adalah menyelesaikan pertandingan, dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Maxwell mengatakan,  John Stephen Akhwari adalah orang yang tetap konsisten dalam memandang tujuan. Ia menggunakan istilah “berfokus pada gambar besarnya”. Gambar besar di sini adalah menyelesaikan pertandingan, bukan “meraih medali”. Jika pelari Tanzania ini  fokus pada perolehan medali semata, maka dengan kondisi kaki terluka dan berdarah, ia memilih untuk berhenti di tengah jalan. Buat apa meneruskan, bukankah sudah jelas ia tak mungkin dapat medali di kejuaraan olimpiade ini?

Pelari ini juga tidak mencari-cari alasan untuk berhenti di tengah jalan meski ia berhak untuk melakukannya. “Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang mempunyai kebiasaan membuat alasan,” demikian kata George Washington Carver. Orang-orang yang sulit meraih sukses, umumnya pintar membuat alasan atas kekurangberhasilan yang mereka peroleh. Sebaliknya orang sukses tidak suka mencari-cari alasan atas kegagalannya meskipun ia berhak untuk melakukannya.

Dari kisah John Stephen Akhwari, saya lebih paham arti sebuah kegigihan dalam menyelesaikan kompetisi hidup. Bahwa kegagalan bukanlah peristiwa yang memalukan, buktinya John menjadi simbol orang sukses di dalam peristiwa “kegagalannya”.

sumber foto: http://www.mensajesdeanimo.com/wp-content/uploads/2013/05/sigue-co.jpg

(artikel ini telah dimuat di majalah Infovet April 20112.

Monday, September 2, 2013

MELAMPAUI EFEKTIVITAS



Jika kita ingin merubah nasib, maka perlu dimulai dengan merubah kebiasaan, karena kebiasaan adalah modal keberhasilan. Demikian pesan utama dalam buku “7 Habits of Highly Effective People” karya Stephen R Covey yang pernah saya ulas di artikel Refleksi bulan Maret 2013

Beberapa tahun setelah buku tersebut terbit, Stephen mengatakan, dalam hidup ini, efektif saja rupanya tidak cukup. Ada satu hal yang luar biasa dalam hidup ini yang akan menembus efektivitas seseorang, yaitu voice (suara hati, panggilan jiwa). Ia menyebut ini sebagai kebiasaan ke delapan.

Stephen kemudian menulis buku berjudul The 8th Habits, kebiasaan ke delapan, sebagai penjelas pandangannya mengenai suara hati. Dikatakan, kebiasaan ke delapan dapat melampuai efektivitas, menggapai keagungan dalam hidup.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan Bangun Dioro, pemilik Bangun Karso Farm di daerah Cijeruk, Bogor. Ia adalah seorang anggota TNI berpangkat Sersan yang mampu memanfaatkan waktu senggangnya untuk mengembangkan peternakan kambing dan domba di kawasan seluas lebih dari 10 hektar dengan memberdayakan masyarakat sekitar.

Di masa kecilnya ia adalah pemelihara kambing di kampung halamannya di Jawa Tengah.  Semenjak tinggal di Bogor dan menjadi anggota TNI, kemampuan beternak kambing ia asah dengan melakukan magang di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi. Setelah mulai mempraktekkan ilmunya, usaha peternakan kambing jauh lebih bagus dibanding waktu ia memelihara kambing di kampungnya. Ia makin paham bedanya kebutuhan nutrisi kambing perah, kambing pedaging dan domba, sehingga ia dapat menyediakan pakan yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk menyediakan kambing sebagai hewan kurban, ia tahu kapan harus memulai memelihara kambing bakalan. Ia juga paham fermentasi pakan, hijauan mana yang mengandung sianida, juga soal biosecurity serta bermacam penyakit yang mengancam kambing beserta solusinya.

Singkat cerita, peternakan kambingnya semakin berkembang hingga ribuan ekor dan mampu memasok kambing ke lembaga amil zakat, panitia hewan kurban maupun ke masyarakat umum. Ia dijuluki sebagai sersan kambing dan sersan berpenghasilan jenderal, akibat kemajuan usahanya yang luar biasa.

Berbagai penghargaan ia terima baik yang tingkat kabupaten, propinsi hingga tingkat nasional. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi banyak yang melakukan penelitian dan praktek kerja lapangan di lokasi peternakannya. Peternak dari berbagai penjuru tanah air banyak juga yang berguru kepadanya. Bahkan Presiden SBY pun menyempatkan menyambangi lokasi usahanya setelah mendengar popularitas Bangun Dioro sebagai  anggota TNI yang mampu mengembangkan usaha peternakan kambing.

Di kawasan Bangun Karso Farm berbagai tanaman ia kembangkan untuk kambing dan domba. Ia menaman indigofera, tanaman asal Afrika, untuk kambing perah. Tanaman katuk yang sangat populer di kalangan ibu-ibu yang tengah menyusui, juga ia tanam untuk makanan kambing perah agar air susu kambingnya lebih produktif. Jenis kambing yang ia pelihara juga aneka ragam, ada domba merino, domba garut, domba persilangan, kambing boer, kambing PE dan sebagainya. Ia sangat lihai menjelaskan plus minus memelihara berbagai jenis kambing dan domba.
Dengan pemeliharaannya yang menerapkan ilmu terkini, kambing perah yang ia pelihara mampu berproduksi 7 liter sehari. Ia juga memelihara kambing dengan pakan ramuan khusus dari China sehingga menghasilkan daging kambing rendah kolesterol.

Bangun mengakui, apapun yang ia pikirkan adalah untuk kambing. “Saya mudah sekali mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk membuat kandang kambing, sedangkan untuk rumah sendiri sangat hitung-hitungan hehehe”, akunya. Begitupun dalam hal kendaraan. Ia memilih membeli mobil bak terbuka agar kemana-mana jika ketemu limbah pertanian yang bisa untuk makanan kambing bisa langsung dibeli dan diangkut.

Hampir segala urusan dikaitkan dengan kambing. Di kesatuannya juga membantu rekan-rekan dari memelihara kambing. Pun kepada masyarakat sekitar, ia membantu warga berupa kambing. Hidupnya demikian menyatu dengan kambing.

“Saya sendiri heran, kalau ada tugas keluar kota, saya telepon ke rumah yang pertama kali ditanyakan ke istri saya adalah gimana kambingnya, bukan menanyakan kabar keluarga, sampai istri saya protes,” tambahnya setengah bercanda,  seraya menambahkan untuk yang satu ini sekarang sudah mulai berlatih menanyakan kabar anak istri.

Bangun Dioro mungkin belum membaca buku The 8th Habits karya Stephen R Covey. Tapi ia sudah melakukan apa yang disampaikan Covey di buku The 8th Habit. Bangun sudah menemukan panggilan jiwanya yaitu  hidup di dunia dengan peran utama dalam pengembangan peternakan kambing.

Covey menuturkan, siapapun boleh saja sukses sampai ke ujung langit, namun jika ia tidak memenuhi panggilan jiwanya, maka dia bukan siapa-siapa. Bangun sudah menjadi “siapa” dengan mengembangkan peternakan kambing dengan berbagai inovasinya. ***

 Catatan: Artikel di atas telah dimuat di Majalah Infovet, Edisi Mei 2013

Masih Tersedia buku kumpulan Artikel Refleksi “Jangan Pulang Sebelum Menang”. Pesan ke Gita Pustaka, telp: 021.7884  1279.