Wednesday, November 30, 2011

Guru Yang Memberi Cahaya


Di sebuah sekolah menengah yang baru saja menyelenggarakan try out (uji coba) ujian akhir nasional, seorang guru senior merasa kecewa dengan hasil yang diperoleh oleh siswanya yang ternyata sangat jauh dari harapan. Di hadapan para siswa, guru itu menyampaikan pesan-pesannya.

“Baiklah anak-anak sekalian. Kalian telah melihat hasil uji coba ujian akhir nasional. Ternyata hasilnya sangat mengecewakan kita semua,” ujar pak Guru dengan raut muka serius.

Saya tidak mengerti kenapa kalian mendapat nilai yang sangat mengecewakan. Padahal sebagai guru saya sudah memberikan semuanya kepada kalian. Kenapa kalian membalas kebaikan kami dengan cara demikian? Kalau sudah seperti ini, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan. Masa depan kalian sudah bisa saya gambarkan. Suram!” tambahnya.

Seluruh ruangan senyap. Gesekan kertas dan suara angin menjadi terdengar jelas. Semua siswa diam seribu bahasa. Mereka yang dalam keadaan kecewa melihat hasil try out yang  jauh dari harapan, menjadi kian panik.

Sementara itu di sekolah lain yang juga baru selesai menyelesaikan uji coba dengan hasil yang kurang lebih sama buruknya, suasana kelas tampak berbeda. Seorang guru memberikan tanggapannya dengan wajah yang lebih tenang.

“Baiklah anak-anak semuanya. Kalian tentu telah melihat hasil try out ujian akhir nasional. Hasilnya memang belum sesuai harapan kita semua, bahkan mungkin ada di antara kalian yang sangat kecewa. Namun saya percaya ini bukanlah hasil terbaik yang kalian tampilkan,” nadanya terdengar bijak.

Ini baru uji coba, baru pemanasan. Kami pihak guru yakin bahwa jika kalian dapat memperbaiki cara belajar dengan serius, maka kita akan menuai sukses. Kita semua akan benar-benar diuji pada saat ujian akhir nasional. Jadi kalian harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan kami para guru, dengan senang hati membantu kalian agar bisa sukses pada ujian akhir nasional. Oke! Kita sekarang bersama-sama sepakat untuk meraih kesuksesan pada saat ujian akhir nasional!”

Kejadian pertama adalah contoh guru yang hanya sekedar pengajar, bukan pendidik. Dia bisa jadi seorang guru yang pintar dan cerdas namun belum memiliki kemampuan memotivasi siswa. Sebaliknya guru yang kedua adalah guru yang mencerahkan, yang memberi cahaya ketika situasinya terasa gelap. Ia memberi motivasi dengan cara membingkai ulang peristiwa (reframing).

Zulfiandri, seorang pakar  quantum teaching, dalam bukunya Qualitan Teaching, mengatakan, dalam memotivasi siswa, seorang guru disarankan menggunakan teknik ini ketika melihat prestasi yang kurang bagus pada anak didiknya. Ada dua jenis reframing, yaitu context reframing(membingkai ulang peristiwanya) dan meaning reframing (membingkai ulang maknanya).

Teknik membingkai ulang peristiwa dilakukan dengan memberikan pandangan alternatif terhadap sebuah kejadian. Dalam kasus di atas, guru mengatakan “ini baru uji coba”. Kata-kata “baru uji coba” merupakan teknik membingkai ulang peristiwa yang dapat memberi motivasi ke siswa bahwa ujian yang sesungguhnya adalah ujian akhir nasional, sehingga harus dilakukan persiapan yang lebih baik.

Guru pada contoh kedua juga menerapkan teknik membingkai ulang pada maknanya, dengan mengatakan “saya yakin ini bukanlah hasil terbaik yang kalian bisa tampilkan”. Jelas sekali kata-kata ini sangat positif dampaknya bagi para siswa yang tengah gelisah melihat hasil uji coba ujian yang jelek.
Teknik reframing sering kita dengar dari para orang tua dan para pemimpin yang bijak. Ini adalah cara mengambil pelajaran dari sebuah kejadian dengan cara yang tidak menggurui. Perlu dipahami, dua teknik reframing ini tidak selalu dapat digunakan dalam satu waktu.
Umpamanya ada seseorang yang kesal mengalami penundaan pesawat yang disebabkan oleh kerusakan mesin.  Bagi orang yang sedang terburu-buru dan ingin segera sampai tujuan, tidaklah tepat  membingkai ulang peristiwa dengan mengatakan, “nikmati saja penundaan ini dengan menikmati suasana bandara, berkeliling dan berbelanja oleh-oleh”. Kalimat yang terkesan bijak ini sangat mungkin malah membuat dia emosi karena sedang terburu-buru malahan disuruh menghabiskan waktu yang tidak jelas.
Oleh karena itu cara yang tepat adalah dengan membingkai ulang maknanya (meaning reframing), umpamanya dengan mengatakan bahwa lebih baik kerusakan diketahui sekarang dan diperbaiki sekarang juga saat masih di darat, daripada ketahuan rusak ketika pesawat sedang terbang.
Dengan membingkai ulang makna dari kejadian kerusakan mesin pesawat, penumpang dapat langsung membayangkan betapa berbahayanya jika kerusakan pesawat baru diketahui pada saat pesawat sudah berada di angkasa. Perubahan pemahaman ini akan dapat membuat penumpang yang tadinya gelisah dapat menjadi lebih tenang.
Pada situasi lebaran, kita bisa saja kecewa dengan kemacetan mudik meskipun sebelumnya sudah mengatur jadwal perjalanan agar terhindar dari kemacetan. Menghadapi situasi itu banyak pemudik yang memaknai situasi macet ini sebagai bagian dari perayaan lebaran itu sendiri.  Untuk itu kemacetan dapat diisi dengan kegiatan memotret pemandangan indah dan unik di sepanjang perjalanan atau kegiatan lainnya yang lebih bermakna.
Kita perlu mengupayakan segalanya berjalan sesuai harapan. Manakala yang terjadi jauh dari harapan, kita dapat memandang dengan makna yang positif dan melakukan tindakan yang lebih baik di waktu selanjutnya. Salah satunya dengan teknik reframing. Bukankah kita ingin seperti guru yang dapat memberi “cahaya” untuk muridnya? Selamat mencoba.***

Email: bambangsuharno@yahoo.com.

Wednesday, November 2, 2011

Filosofi Kematian Dari Steve Jobs



Jika kita hidup setiap hari seperti hari terakhir bagi kita, maka kita akan menciptakan sesuatu yang benar-benar besar. (Steve Jobs).
Dunia baru saja kehilangan seorang legenda teknologi computer bernama  Steve Jobs. Seingat saya, baru kali ini kematian seorang pengusaha diberitakan sedemikian heboh dan menginspirasi.

Ini membuat saya penasaran ingin tahu riwayat hidup Steve Jobs. Banyak orang mengelu-elukannya dan menyebutnya sebagai seorang penemu, pebisnis dan inspirator dunia modern.
Di antara berbagai artikel mengenai Steve Jobs, ada  dua tulisan yang sangat bagus yaitu pidato Steve Jobs di acara Wisuda Universitas Stanford  tahun 2005, dan artikel biografi singkat yang ditulis oleh Davit Putra (davitputra.net).

Steve Jobs lahir dari rahim seorang mahasiswi muda yang hamil di luar nikah dengan seorang lelaki yang tidak tamat SMA.  Steve Jobs kecil diadopsi seorang pengacara hingga kemudian dapat menikmati bangku kuliah yang cukup bergengsi, di Reed College.

Selama kuliah 6 bulan, Steve Jobs tidak merasa tenang hatinya karena telah menghabiskan uang tabungan orang tua angkatnya untuk bisa kuliah di Perguruan Tinggi mahal. Ia kemudian memutuskan keluar dari bangku kuliah dan mengambil jalur non formal di kampus yang sama, yaitu kursus kaligrafi selama 18 bulan. Steve Jobs rela hidup prihatin dengan tidur di lantai asrama teman-temannya, menukarkan botol cola agar mendapatkan 5 sen untuk membeli makanan, dan berjalan sejauh 10 km seminggu sekali untuk memperoleh makanan yang baik di Candi Hare Krishna.

Di depan mahasiswa Stanford, Steve Jobs mengaku, ketika belajar kaligrafi, ia tidak memiliki pikiran bahwa suatu saat ilmu ini akan bermanfaat bagi perjalanan karirnya. Akan tetapi sepuluh tahun kemudian, ketika ia mendesain komputer Macintosh pertama, ilmu kaligrafi yang didalaminya seperti datang kembali kepadanya untuk memberikan gagasan baru mengenai komputer. Komputer itu merupakan komputer pertama yang didesain dengan tipografi yang indah.  

Saya baru ingat sekarang bahwa sekitar 10 tahun lalu para praktisi disain grafis sering membangga-banggakan komputer machintosh (Mac) yang harganya selangit  dan dapat menghasilkan disain dengan tipografi yang sangat bagus. Waktu itu para desainer grafis merasa ketinggalan jika komputer yang dipakai adalah PC biasa yang harganya murah. Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah karya Steve Jobs.  

“Jika saya tidak pernah mengambil kursus kaligrafi sewaktu drop out di kampus, komputer Mac mungkin tidak mempunyai beragam tipe huruf atau spasi huruf-huruf yang proporsional dan indah,” ujar Steve Jobs dalam pidatonya.

Steve Jobs berpendapat bahwa menghubungkan beberapa momen kehidupan sangat penting dalam mengambil keputusan. Contoh kongkritnya adalah mempelajari kaligrafi dengan mengembangkan teknologi computer, dua hal yang dulunya dianggap tak berhubungan sama sekali.

Ketika Apple menjadi perusahaan besar beromset $2 miliar dengan 4000 pekerja, Steve Jobs dipecat oleh CEO atas persetujuan Dewan Direksi. Kedengarannya aneh bahwa ada pendiri perusahaan yang dipecat oleh CEO nya sendiri karena perbedaan pandangan ke depan. Tapi itulah kenyataannya. 

Beberapa bulan setelah dipecat Steve tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah ada satu hal yang dia ingat, yaitu ia masih mencintai bidang pekerjaannya. Karena masih sangat mencintai bidangnya, maka pelan-pelan bangkit kembali dan mendirikan perusahaan baru, NeXT Computer dan Pixar Animation. Pixar menghasilkan karya besar berupa film animasi komputer pertama yang sukses—Toys  Story, dan menjadi studio animasi film terbaik di dunia saat itu. Apple kemudian membeli  Perusahaan NeXT dan Steve Jobs kembali lagi ke Perusahaan Apple. Teknologi yang dikembangkan di NeXT Computer kemudian menjadi jantung teknologi Apple.
Dari sini Steve Jobs sempat berujar dalam pidatonya , “Saya yakin semua tidak akan pernah terjadi jika saya tidak dipecat oleh Apple. Ini merupakan obat mujarab yang sangat pahit, tapi saya pikir setiap pasien membutuhkannya. Kadang-kadang kehidupan menghancurkan anda dengan amat kejam. Janganlah hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu hal yang bisa membuat saya bertahan adalah bahwa saya mencintai apa yang saya lakukan. Kita harus mencari apa yang sebenarnya kita cintai”.

Di sini kelihatan bahwa seburuk apapun yang menimpa dirinya, Steve Jobs tak kehilangan energi positif untuk menyikapi semuanya..

Ada satu pesan penting dari Steve Jobs yang sangat berharga bagi siapapun. Yaitu soal kematian. Setiap kita pasti takut kalau bicara kematian. Namun yang pasti kematian adalah hal yang akan dialami setiap makhluk hidup. Apa yg akan kita lakukan jika Malaikat memberi tahu bahwa esok hari nyawa kita akan dicabut? Tentu kita akan melakukan hal yang terbaik dalam hidup.

Filosofi  kematian inilah yg dianut oleh Steve Jobs. Setiap pagi ia berdiri di depan cermin dan bertanya pada diri sendiri , “Jika hari ini adalah hari terakhir saya, apakah saya akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan?” Ketika jawabannya ‘tidak’, ia tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia rubah.

Steve Jobs pernah divonis dokter terserang kanker pankreas dan diprediksi dapat bertahan hidup hanya 6 bulan. Ternyata selama 8 tahun ia masih bertahan dan tetap menghasilkan karya-karya besar.  Produk-produk iPhone, iPod Touch, iPad, Macbook Air, dirancang dan digarap saat ia telah didiagnosa mengidap kanker pankreas.
Pesan Steve Jobs tentang kematian sangat jelas dan menyentuh hati para pengagumnya, yaitu, “Jika kita hidup setiap hari seperti hari terakhir bagi kita, kita akan menciptakan sesuatu yang benar-benar besar di kemudian hari.”
Selamat jalan Steve Jobs.
Kami mengenang karya dan petuahmu.***