Friday, May 20, 2011

Kekuatan Bersyukur


Jika kita bersyukur terhadap apa yang kita miliki, maka kita akan mendapatkan lebih banyak lagi yang layak kita syukuri. Saya dan juga anda, tentu begitu sering mendengar kalimat semacam ini sehingga tanpa sadar kadang merasakan bahwa kalimat ini hanya sekedar kalimat pelipur lara saja.
Lain halnya ketika saya membaca bahasan tentang syukur yang ditulis oleh Rhonda Byrne dalam buku berjudul The Secret (Rahasia). Buku ini menjadi perbincangan hangat di Amerika Serikat. Penulisnya tampil dalam dua acara televisi yang paling bergengsi yakni acara yang dipandu Larry King dan acara Oprah Winfrey. Di Indonesia Buku The Secret versi Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori buku best seller nasional.
Menurut cerita, Rhonda Byrne semula mengalami masalah hidup yang sangat berat. Kemudian dia menemukan sebuah buku yang mengungkapkan rahasia terbesar sepanjang jaman, yang merupakan jawaban atas segala persoalan yang sedang dia alami. Karena penasaran, Rhonda Byrne kemudian melakukan pencarian tentang informasi yang lebih lengkap tentang The Secret itu sendiri, yang ternyata di masa lalu dikuasai oleh orang-orang yang telah memberikan sumbangan besar kepada dunia, seperti Newton, Emerson, Beethoven, Edison, Einstein dan sebagainya.
Hasil pencarian itu, Byrne menemukan beberapa Secret Teacher masa kini, diantaranya Bob Proctor (pembicara internasional), Jack Canfield (penulis buku Chicken Soup For The Soul yang telah dicetak 50 juta eksemplar), John Demartini dan lain-lain. Mereka membeberkan rahasia sukses dalam buku ini.
Byrne mengatakan, banyak orang sukses tidak mengetahui ada buku ini, namun jika diteliti cara-cara hidupnya, orang-orang hebat ini (tentunya hebat dalam jalur kebaikan) secara tidak sadar telah mempraktekkan apa yang ada di dalam buku ini.
Satu hal dalam buku The Secret yang paling menarik menurut saya adalah tentang bersyukur. Mengutip petuah Joe Vitale, Byrne mengatakan, bila anda ingin mengubah hidup, hal pertama yang dapat anda mulai adalah membuat daftar hal-hal yang anda syukuri. Jika sebelumnya anda berfokus pada apa yang tidak anda miliki, pada keluhan dan masalah anda, sekarang anda dapat menemukan perbaikan luar biasa bila mulai melakukan latihan bersyukur.
John Demartini menambahkan apapun yang kita pikirkan dan syukuri, kita akan mendapatkannya lagi. Silakan anda praktekkan!
”Syukur adalah bagian mendasar dari ajaran-ajaran guru besar sepanjang sejarah,” kata Bryne. Dalam buku The Science of Getting Rich karya Wallace Wattles di tahun 1910, syukur adalah bab yang terpanjang. Demikian pula dalam buku The Secret ini, setiap orang yang ditokohkan menggunakan rasa syukur sebagai bagian dari hari-hari sukses mereka. Mereka memulai aktivitas pagi hari dengan pikiran dan perasaan syukur.
Lantas, mengapa bersyukur bisa mendatangkan lebih banyak hal yang layak disyukuri lagi? Ini dapat dijelaskan dengan hukum tarik menarik (law of attraction) yang merupakan prinsip utama sukses.
 Law of Attraction menyatakan bahwa pikiran akan membentuk realitas. Pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif, pikiran yang negatif akan menarik hal-hal yang negatif. Dasar ilmiahnya adalah bahwa pikiran kita merupakan gelombang, sebagaimana setiap partikel yang menyusun semesta ini. Pikiran kita selalu membangkitkan getaran yang akan direspon oleh semesta. Dalam fisika kuantum dikemukakan bahwa kejadian di luar sana hanyalah samudera kemungkinan-kemungkinan, yang menjadi "realitas" setelah dibentuk oleh pikiran. Bila anda melihat batu, dia adalah samudera kemungkinan yang oleh pikiran dapat berubah menjadi perhiasan, bahan kimia, alat rumah tangga atau apapun, tergantung pikiran manusia. Jadi pikiranlah yang membentuk "dunia" kita.
Demikian halnya dengan kejadian yang kita alami saat ini, sesungguhnya adalah hasil pikiran kita jauh hari sebelumnya, sengaja ataupun tidak. 
Ambil contoh, misalkan anda tersinggung dengan perkataan seseorang, lantas anda fokuskan pada perasaan tersinggung itu, maka rasa tersinggung akan menarik ketersinggungan yang lebih besar lagi. Anda tersinggung satu hal dari satu orang, bisa bertambah menjadi beberapa hal dari satu orang. Kemudian anda pikirkan dan rasakan ketersinggungan anda, maka berikutnya anda bisa tersinggung oleh orang lain. Demikian seterusnya, sehingga ketersinggungan akan menarik ketersinggungan berikutnya.
Sebaliknya bila anda sekuat tenaga memikirkan hal positif dari orang yang menyinggung anda, selanjutnya rasa tersinggung akan sirna. Pikiran positif akan menarik pikiran positif. Kejadian bahwa hati anda kemudian lebih tenang, tidak tersinggung dengan perkataan orang, dan kemudian mendapatkan orang lain yang ramah adalah hasil dari pikiran anda sebelumnya.
Jika anda mengeluh, law of attraction akan mendatangkan lebih banyak situasi yang anda keluhkan ke dalam hidup anda. Anda mengeluh bos anda berlaku tidak adil? Kemanapun anda pergi anda akan menemukan lebih banyak orang yang bertindak tidak adil kepada anda. Jika anda mendengar seseorang mengeluh dan anda berfokus pada hal itu, bersimpati kepadanya, saat itu juga anda menarik lebih banyak situasi kepada diri anda untuk mengeluh juga.
Kita tak perlu mengusir hal-hal buruk, cukuplah dengan menarik hal-hal baik, maka yang buruk akan pergi. Bersyukur adalah menarik hal yang baik, yang dengan sendirinya mengusir hal yang buruk. Dengan kata lain, menurut Law of attraction, bersyukur (hal positif) akan menarik ”hal positif” lain yang layak disyukuri.
Dengan penjelasan ini, ”petuah bersyukur” tidak lagi terasa seperti kalimat pelipur lara. Ini soal hukum alamiah yang sudah berlaku sejak dulu kala. Awalilah hari anda dengan rasa syukur yang sebenar-benarnya, kalau perlu sampai berlinang air mata, terhadap yang telah anda miliki. ***
http://www.bambang-suharno.blogspot.com

Friday, May 13, 2011

Belajar Mental Entrepreneur Dari Transmigran

Beberapa waktu lalu saya pergi ke daerah pemukiman transmigrasi di Lampung
Utara. Mereka berasal dari Pulau Jawa dan Bali, memulai bermukin dan membuka
lahan perkebunan di sana sejak tahun 1983. Sebagai sebuah program besar dari
pemerintah, setiap keluarga petani mendapat jatah 2 Ha lahan dan biaya hidup
untuk 1,5 tahun gratis. Mereka semua juga diberi perlengkapan pertanian dan
paket penyuluhan pertanian. Pendek kata mereka datang dengan modal yang
sama.

Tahun berganti tahun, mereka sudah mulai dapat memanen hasil jerih payahnya
di perkebunan mereka, yakni kebun karet dan sebagian kebun kelapa sawit.
Ada pula tanaman lainnya seperti singkong, nanas dan sebagainya. Ternyata
dengan modal yang sama, perkembangan mereka di kemudian hari sangat
berbeda-beda.

Sekarang, setelah 25 tahun berjalan kekayaan mereka sangat jauh beda. Ada
yang sudah memiliki 10 Ha, ada yang 15 ha, tapi ada juga yang lahannya sudah
habis, yang tersisa hanya rumah dan pekarangan saja. Bagi yang sudah habis
tanahnya, mereka kini bertindak sebagai petani penggarap alias buruh tani.

Kondisi ini menegaskan bahwa modal bukanlah faktor utama untuk kesuksesan
bisnis. Umpamanya saya memberi Anda masing-masing Rp 100 juta untuk modal
usaha, 10 tahun yang akan datang di antara Anda ada yang memiliki 300 juta,
ada yang 400 juta, ada pula yang nol rupiah, bahkan bisa saja ada yang malah
terjerat hutang ratusan juta rupiah.

Dalam kasus petani transmigran yang sekarang hanya sebagai petani penggarap,
mereka pada umumnya mengalami hal demikian akibat cara pengelolaan uangnya
bukan dengan cara entrepreneur.

Orang-orang yang berjiwa entrepreneur selalu berusaha mengeluarkan uang yang
produktif. Mereka berusaha uang yang keluar tidak hilang begitu saja
melainkan menjadi uang kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Para petani
transmigran yang sukses, sejak awal pandai berhemat. Berhemat itu bukan
sekedar mengencangkan ikat pinggang melainkan penghematan dalam rangka
meningkatkan produktivitas uang. Jadi ketika mereka panen, sebagian uangnya
segera disisihkan untuk membuat penghasilan baru yang lebih besar.

Sementara itu di tengah masyarakat transmigrasi itu ada pula keluarga yang
ingin cepat menikmati hasil. Begitu mereka panen, segera sepeda motor baru,
perlengkapan rumah tangga yang lebih mewah, baju yang lebih mahal dan
pengeluaran konsumtif lainnya sehingga tak ada sisa dana untuk membuat
kebunnya lebih produktif.

Mereka terbiasa hidup boros. Hasil panen ternyata terasa kurang. Mereka
pinjam uang ke sana-kemari untuk membeli barang mewah. Beberapa tahun
kemudian, ketika kebutuhan hidup semakin tinggi, sementara hutang makin
menumpuk, apa boleh buat kebun sebagai aset yang harus dikembangkan, malah
harus dijual.

Ini seperti kisah angsa bertelur emas. Alkisah, di sebuah desa ada petani
yang kara raya. Ia kaya karena memiliki angsa bertelur emas. Setiap angsanya
bertelur, kehidupannya bertambah mewah dan konsumtif, apapun yang bisa
dibeli langsung dibeli. Dengan memiliki angsa bertelur emas, dia berani
pinjam duit karena dapat dikembalikan dengan menjual telur emas.

Lambat laun hutang makin tak terkendali, dan makin banyak debt colector
mendatangi rumahnya. Akibatnya ia minta kepada angsa agar dapat bertelur
emas sehari dua kali. Tentu saja tidak bisa. Akhirnya karena ia tidak dapat
memperoleh telur emas, ia memutuskan menyembelih angsa tadi dan membedah
perutnya dengan harapan sudah ada telur di perut sana. Ia tidak menemukan
telur, melainkan angsa mati yang tak dapat bertelur lagi.

Hal yang senada terjadi pada transmigran di Lampung yang saya kunjungi.
Mereka yang tidak dapat mengendalikan uang, menjadi boros dan lambat laun
hutangnya (hutang konsumtif) semakin menumpuk. Mereka kehabisan akal hingga
kemudian memutuskan untuk menjual perkebunannya yang selama ini bertindak
sebagai angsa bertelur emas.

Ujian mental seorang entrepreneur adalah ketika ia mulai mendapatkan uang.
Apakah tetap konsisten membuat uang lebih produktif atau langsung tergoda
untuk membelanjakan uangnya sebagai uang konsumtif.

Bila anda ingin lulus dari "ujian mendapatkan uang", segeralah ingat petuah
ini; seorang entrepreneur selalu berusaha untuk produktif, yaitu
mengeluarkan uang untuk menjadi uang yang lebih banyak. Dan jangan lupa
sedekah, sebagai pembuka pintu rejeki yang halal dan barokah.

Sukses untuk anda.****

www.bambang-suharno.blogspot.com

Wednesday, May 11, 2011

Pelajaran dari Coca-Cola; Botolkan Saja



Tahun 2003 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota Atlanta, Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat, untuk mengikuti seminar dan melihat sebuah pameran bisnis perunggasan terbesar di dunia, International Poultry Expo (IPE). Lokasi pameran sangat strategis, yakni di Georgia World Conggres Center (GWCC). Tidak jauh dari sana, ada kantor pusat studio televisi CNN dan kantor pusat perusahaan  minuman ringan terbesar di dunia, Coca-cola. 

Sayang sekali, karena padatnya acara di pameran dan seminar saya tidak sempat melihat lebih jauh kantor pusat Coca-cola yang sebenarnya sangat menarik perhatian saya. Sebelumnya saya sudah mencari informasi perihal minuman botol yang paling merajai dunia itu. Saya ingat, sebuah survey yang menyatakan ada satu merek yang paling dikenal seluruh penduduk bumi ini adalah Coca-cola. Dari New York hingga pedalaman Afrika hampir semuanya mengenal merek tadi.

Coca-Cola didirikan oleh Candler yang semula adalah pemilik sebuah toko kimia yang tidak begitu terkenal. Pada awalnya minuman Coca-cola dijual dalam sebuah kedai minuman, semacam warkop di negeri kita. Para penggemar Coca-cola dimanapun, bila ingin menikmati minuman Coca-cola harus datang ke kedai, cukup dengan mengeluarkan kocek 5 sen dolar. Ramuannya adalah coke dicampur soda, yang membuat tubuh terasa segar.

Coca-cola berhasil merebut hati konsumen di wilayah Atlanta. Hampir setiap toko kimia di kota itu memiliki kedai soda yang menjual minuman Coca-cola. Lantas pada tahun 1888, Candler mendapatkan hak paten atas karyanya tersebut.

Perjalanan sukses Candler tidak berhenti sampai di sini. Dikisahkan, pada suatu hari seorang kawan Candler datang ke kantornya dan menawarkan sebuah rahasia penting yang bisa membuat Coca-cola menyebar ke seantero dunia. Untuk mengungkap rahasia tersebut, teman Candler meminta bayaran yang tidak kecil untuk ukuran dia.

Setelah berdiskusi cukup alot, akhirnya Candler bersedia menandatangi cek pembayaran atas informasi dari sang kawan tadi. Dengan gembira, sang kawan menerima cek tersebut. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Candler membisikkan dua kata yang di kemudian hari merubah perusahaan coca cola yang semula perusahaan lokal menjadi perusahaan yang mendunia.

Dua kata tersebut adalah ”Botolkan saja!”.  

”Ya, botolkan saja. Hanya itu!” kata kawannya. Candler terkesima. Kepalang sudah mengeluarkan uang yang banyak,  Candler menuruti apa yang disarankan kawannya tadi. Selanjutnya anda tahu sendiri bagaimana suksesnya minuman ini di berbagai belahan bumi.

Sebelum coca-cola dijual botolan, orang yang mau menikmati Coca-cola harus berkunjung ke kedai.  Sama seperti kita berkunjung ke warung makan, minta kopi atau teh manis hangat. Kita nunggu dan datanglah pesanan kita.

Dengan sistem penjualan melalui warung atau kedai, pertumbuhan bisnis Coca-cola hanya berkembang di wilayah kota Atlanta dan sekitarnya saja.  Untuk merambah ke kota lain, dibutuhkan survey lokasi, survey konsumen, modal untuk sewa tempat dan sebagainya. Setelah minuman ini disajikan dalam botol, konsumen dimanapun di dunia bisa menikmati coca cola, tanpa harus datang ke kantin atau warung makan. Ambil botol, langsung nikmati.

Proses ini kata Burke Hedges dalam buku Copycat Marketing disebut sebagai efisiensi yang sebenar-benarnya. Padanan dari kata efisiensi adalah leverage yang berasal dari Bahasa Perancis yang artinya menjadikan lebih ringan. Perubahan penjualan coca cola dari bentuk kedai menjadi bentuk botol adalah sebuah efisiensi. Pengembangan coca cola menjadi jauh lebih ringan dengan model pembotolan, dibanding dengan membangun kedai di berbagai penjuru.

Teknologi telah begitu banyak membuat banyak hal lebih efisien. Contoh yang paling sederhana dan telah diajarkan siswa Sekolah Dasar adalah alat ungkit. Bila kita akan mengganti ban mobil, berapakah waktu dan orang yang bisa mengangkat mobil dan mengganti ban? Tiga orang? Mungkin lebih. Dengan alat ungkit alias dongkrak, cukup satu orang bisa mengganti ban mobil.

Efisiensi bukan saja karena semata-mata teknologi seperti alat ungkit, dapat pula dalam bentuk gagasan radikal untuk merubah pola kerja, seperti halnya yang terjadi di Coca-cola.

Alkisah, di sebuah gedung perkantoran, banyak keluhan terhadap lamanya waktu menunggu lift. Manajemen gedung berusaha menambah lift baru, tapi komplain tentang hal itu tetap bermunculan. Kemudian muncullah satu ide yang mudah dan sangat murah untuk dilaksanakan, yaitu memasang cermin di lift. Setelah ada cermin di pintu lift, pengunjung maupun karyawan di gedung tersebut tidak merasa menunggu terlalu lama antrian lift, karena asyik bercermin. Ini benar-benar cara menangani komplain yang sangat efisien.

Dalam hal pengalaman coca-cola tadi, proses merubah sajian coca-cola dari bentuk konvensional menjadi bentuk botol tidaklah sesederhana cerita tadi. Di balik kisah sukses itu pasti ada tantangan, bagaimana merubah pola manajemen dari sistem penjualan eceran menjadi penjualan masal dan dari manajemen warung menjadi manajemen korporasi.

Itu sebabnya gagasan merubah sesuatu perlu dibarengi dengan sistem yang mendukung. Setiap perubahan membutuhkan mental untuk siap berubah ke arah yang lebih baik. Bagi saya, Candler bukan hanya berhasil ”membotolkan saja”, melainkan sukses untuk membuat semua karyawan Coca-cola untuk bersama-sama berubah dalam mengelola perusahaan.

“Botolkan saja” adalah awal dari sebuah perubahan, selanjutnya perubahan terus terjadi di segala lini perusahaan. Hal senada sering terjadi di perusahaan ketika ada keputusan baru, pemimpin baru, pabrik baru dan hal-hal baru lain yang menuntut perubahan di semua bagian. 
(dari buku: Jangan Pulang Sebelum Menang. www.bambang-suharno.blogspot.com)











Sudahkah anda mengalaminya?

Wednesday, May 4, 2011

KEBERUNTUNGAN SEORANG PETANI MISKIN

 

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah. Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dan menawarkan harga yang sangat tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejek dia karena tidak menjual kudanya itu.

 

Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata,”sungguh jelek nasibmu, padahal kalo kemarin dijual kamu kaya, sekarang kudamu sudah hilang”. Si petani miskin hanya diam saja.

 

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-teman nya berkata, “wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan”. Si petani hanya diam saja.

 

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka terjatuh dan kakinya patah. Teman-temannya berkata,”rupanya kuda-kuda itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah”. Si petani tetap diam tanpa komentar.

 

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis,” beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-anak kami.

 

Si petani kemudian berkomentar,”Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek, semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima keadaan yg terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. Tetapi yg PASTI : Tuhan paling tahu yg terbaik buat kita.. Bagian kita adalah "Mengucap syukurlah dalam segala hal"...

(By Bambang Suharno, sumber dari sebuah milis)

 

Monday, May 2, 2011

Farrah Gray - Milyarder Termuda Sejak Umur 14 Tahun

Farrah Gray adalah seorang anak yang berasal dari kalangan minoritas di Amerika, dan sekarang pun ia masih menjadi bagian dari kalangan minoritas. Bedanya, kalau dahulu Gray adalah seorang keturunan Afrika-Amerika miskin, yang merupakan minoritas di Amerika, maka sekarang ia telah menjelma menjadi milyarder muda, yang juga merupakan minoritas di dunia ini, karena ia telah menjadi bagian dari 1% penduduk dunia yang menguasai peredaran uang. Perjalanan Gray menuju kesuksesan bisa dibilang begitu “instant”.



Tapi, mungkin lebih tepat lagi kalau disebut “ngebut”, karena ia benar-benar mencapai impiannya dengan usahanya sendiri, dan tentunya dukungan dari keluarga dan rekan-rekannya. Gray ialah seorang anak muda yang begitu menginspirasi banyak orang. Dahulu, pria kelahiran tahun 1984 ini tinggal bersama keluarganya di sebuah apartemen kelas bawah, yang toiletnya sering macet dan banyak dihuni kecoak. Rasa sayangnya terhadap keluarga membuatnya ingin memberi yang terbaik bagi mereka, seperti apa yang sering ia lihat di layar televisi.

Pikiran Farrah Gray yang sudah begitu berpandangan ke depan membuatnya berkeputusan untuk mencari uang dengan cara berjualan ketika berusia 6 tahun. Apa yang ia jual waktu itu pun cukup sederhana, yaitu batu yang ia lukis sendiri sebagai ganjalan pintu. Ia berjualan keliling dari rumah ke rumah, dan bahkan membuat kartu namanya sendiri. Di dalam kartu nama tersebut, ia menyebut dirinya sebagai “CEO Abad 21”.

Suatu saat, ia memberi kartu namanya pada seseorang yang bernama Roy Tauer. Tentu saja ia terkesan dengan kartu nama bertuliskan “CEO Abad 21” yang dimiliki oleh seorang anak yang berusia sekitar 8 tahunan waktu itu. Tauer kemudian melihat adanya ambisi entrepreneurship dalam diri Gray, sehingga ia mengajaknya mendirikan sebuah klub bisnis yang diberi nama U.N.E.E.C ( dibaca Unique, singkatan dari Urban Neighborhood Economic Enterprise Club). Klub itu sendiri adalah sebuah organisasi yang mendorong anak-anak muda menjadi pengusaha.

Perjalanan bisnis Farrah Gray terus saja mengalir, dan bahkan Gray berhasil memiliki kantor di Wall Street, sehingga ia menjadi orang termuda di sana!

Di usianya yang ke-11, Farrah Gray kemudian mendapat wawancaranya yang pertama di KVBC Channel 3. Tiga tahun kemudian, di usianya yang ke-14, Gray secara resmi berhasil menjadi seorang milyarder muda dari penjualan yang menembus $1.5 juta dolar dari perusahaan Farr-Out Food miliknya. Kerajaan bisnisnya bertambah lagi ketika ia mengakuisisi majalah Innercity di usia 19 tahun.

Berkat kiprah Farrah Gray dalam bidang bisnis dan juga kepemimpinan & integritasnya, ia mendapat gelar Doktor kehormatan dari Allen University. Buku-buku yang ditulisnya pun laris manis, dan buku yang melambungkan namanya yang berjudul Reallionaire telah dipuji berbagai kalangan, termasuk mantan presiden A.S. Bill Clinton serta pengarang Chicken Soup For The Soul, Jack Canfield dan Mark V. Hansen.

Dengan berbagai prestasinya yang luar biasa dan usianya yang masih muda itu, Gray tentunya masih memiliki banyak cita-cita. Gray mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk terus tumbuh, berkembang, dan memberi sumbangan atau kontribusi pada masyarakat. Jiwa sosialnya ini telah ia buktikan dengan berdirinya Farrah Gray Foundation, sebuah yayasan yang fokus pada pendidikan entrepreneurship bagi anak muda, di mana ia menyumbangkan honornya sebagai seorang pembicara.

Farrah Gray adalah seorang pemuda yang dinamis dan optimis, yang senantiasa percaya akan kata-kata neneknya yang berbunyi:

“’If better is possible, than good is just not enough.(Jika kita bisa melakukan yang lebih baik, maka bagus saja belum cukup.)
 
sumber: kolom-biografi.blogspot.com