Thursday, April 28, 2011

KEKAYAAN BERNAMA KESALAHAN


Saat artikel ini disusun, Ujian Nasional tengah berlangsung, para pelajar sedang melakukan upaya amat sangat serius untuk menghindari kesalahan dalam menjawab soal ujian. Sekalipun demikian sangat jarang seorang siswa dapat memperoleh angka 100 alias betul 100%. Penyebabnya bisa karena memang tidak tahu sama sekali jawabannya. Bisa juga sudah pernah tahu tapi lupa. Kadang juga  menemukan soal yang baru tadi pagi dipelajari dan ketika menemukan soal serupa di ujian, langsung lupa. Dan ada pula yang merasa bisa, tapi ternyata salah ngisi. Begitulah ujian nasional. Begitu pulalah ujian dalam internasional alias ujian kehidupan dunia.

Kesalahan dalam konteks kehidupan adalah milik semua orang. Kita hidup untuk belajar dari kesalahan dan agar sesedikit mungkin melakukan kesalahan.

Dalam buku Becoming A Star, Mario Teguh menyatakan, kita membutuhkan kesalahan untuk mencapai kualitas hasil yang lebih tinggi. Terimalah kemungkinan akan adanya kesulitan, masalah dan kesalahan. Karena jika anda bersungguh sungguh bekerja keras, sebetulnya juga sedang bersungguh-sungguh menyediakan kesempatan bagi timbulnya kesalahan.

"Bagaimanapun kesalahan kita butuhkan untuk mencapai hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik," kata Mario "Super" Teguh.

Membuat kesalahan, dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun. Banyak orang terpelajar sangat teliti dan hati-hati memulai sesuatu, mereka melakukan perencanaan matang, melakukan analisa dan review berulang-ulang, tapi tak juga berani memulai karena takut salah. Padahal seandainya segera memulai, mungkin lebih banyak pelajaran yang diperoleh, baik itu berhasil maupun gagal.

Masih menurut Mario teguh, kesalahan dan kegagalan yang tidak kita hadapi dengan sungguh-sungguh, akan timbul lagi pada tempat dan kesempatan lain, bahkan dalam skala yang lebih besar. Mario mengatakan kesalahan mempunyai bakat mengajak “kakaknya” (skala yang lebih besar) dalam kesempatan berikutnya bila kita sengaja menghindarinya. Dalam bahasa sederhana, jika kita “lari dari kenyataan”, maka makin buruklah kenyataan yang harus kita hadapi.

Kesalahan dalam konteks kepemimpinan, apabila ada seorang pemimpin yang kemarahannya adalah tentang hal-hal yang sama selama bertahun-tahun, maka ia adalah orang yang sedang memimpin organisasi yang sedang dalam perjalanan turun, artinya dia beserta timnya tidak belajar dari kesalahan.

Karena kesalahan selalu memberikan pelajaran untuk mencapai cara cara yang lebih baik, maka tidak penting apakah itu kesalahan kita atau kesalahan orang lain. Jadi bila kita jeli belajar dari kesalahan orang lain maka kita dapat lebih menghemat waktu .

Kita membutuhkan kunci pembuka pintu kesungguhan untuk menghadapkan wajah ini ke wajah kesalahan kita, untuk berdiri gagah di atas kesedihan dan ketakutan, dan mulai melakukan sesuatu yang akan mengeluarkan kita dari masalah, menuju keadaan yang lebih baik.

Bila anda melakukan kesalahan, anda memang tidak mencapai keberhasilan hebat, namun tak usah khawatir,  masih ada keberhasilan baik, keberhasilan lumayan, keberhasilan cukup, lalu...hampir berhasil, baru kemudian "...nggak apa-apa kok!", anda dimaafkan, yang penting belajarlah dari kesalahan agar lebih baik di kemudian hari.

Kesalahan adalah milik kita. Seorang anak kecil yang baru berlatih berjalan, tidak pernah putus asa untuk terus berlatih sampai ia bisa berjalan normal. Ia jatuh berkali-kali dan selalu bangkit, mencoba dan mencoba lagi. Ia berkali-kali salah melangkahkan kakinya, dan nalurinya mengatakan bahwa ia bisa memperbaikinya.

Kesalahan, sungguh sesuatu yang unik. Ia adalah salah satu kekayaan kita. Kita bisa dibuat marah olehnya, juga bisa sukses karenanya.***

Salam  Keberuntungan 
www.bambang-suharno.blogspot.com

Saturday, April 23, 2011

Rumput Tetangga

 
Rumput tetangga tampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri. Itulah manusia, yang mungkin berbeda dengan sapi yang tetap lahap menikmati rumput yang dihidangkan untuknya, tanpa menoleh ke rumput milik sapi lain. Melihat rumput tetangga yang lebih hijau, pertanda kita belum cukup mensyukuri apa yang kita terima.

Dalam beberapa kasus, rumput tetangga yang lebih hijau kelihatan karena kita belum memahami situasi apa yang sebenarnya terjadi di ”halaman rumput ” tetangga tersebut.

Alkisah Rina, seorang mahasiswa berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. ”Pak saya tidak bisa berkonsentrasi belajar sehingga semester ini nilai saya jelek”.

”Apakah ada masalah keluarga atau karena kesibukan lain?” tanya dosennya.

”Terus terang akhir-akhir ini konsentrasi saya terganggu karena melihat teman satu kost saya yang sudah punya pacar. Saya melihat teman kost saya lebih semangat, kemana-mana ditemani pacarnya. Sedangkan saya kemana-mana sendiri,” urainya terus terang.

Sang dosen memberinya beberapa petuah untuk menenangkan hati mahasiswi bimbingannya.

Seminggu kemudian Rika, yang juga mahasiswi bimbingannya datang kepadanya. ”Pak saya sulit belajar dengan tenang. Waktu saya habis bersama pacar saya. Tiap saya belajar yang terpikir pacar saya saja. Saya pikir-pikir lebih enak teman kost saya yang belum punya pacar. Dia kelihatannya lebih tenang dan punya banyak waktu untuk belajar”.

”Siapa teman kost kamu? ”tanyanya. ”Rina, Pak,” jawabnya singkat.

Begitulah kalau kita selalu merasa bahwa yang dimiliki orang lain lebih baik dari milik kita.

Kita dapat melihat rumput tetangga lebih hijau, pada saat yang sama pemilik halaman rumput tadi merasa terganggu oleh rumput tersebut.
Beginilah contohnya. Ada dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Desi, Desi,..!"

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.

Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Desi." Si pengunjung manggut-mangggut, tetapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak , " Desi...Desi...! "

”Orang ini juga punya masalah dengan Desi ?" tanya pengunjung itu
keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang menikah dengan Desi.... ".

Kadangkala kita merasa lingkungan kita tidak adil terhadap kita. Sering kita dengar keluhan, ”saya sudah bekerja lebih keras di perusahaan ini, kenapa pimpinan memberi ke saya hanya ini, sedangkan si A yang kerjanya cuma begitu, mendapat sesuatu lebih hebat”.

Berikut ini saya kutip kisah  dari sebuah situs internet tentang motivasi. Alkisah, ada seorang hartawan di suatu negeri meninggal dunia dan meninggalkan wasiat tentang pembagian harta untuk kedua orang putranya.

Sepanjang hidup, si hartawan mengumpulkan hartanya satu per satu dengan sangat teliti sehingga ia sangat mengenal semua harta miliknya. Oleh karena itu ia dapat membagi semua hartanya menjadi dua dengan nilai
kurang lebih sama. Akan tetapi karena jenis-jenis harta itu tidak persis
sama yang diterima oleh masing-masing anaknya maka keduanya dengan penuh iri menganggap bahwa anak yang lain mendapatkan warisan lebih banyak dibanding dirinya.

Sepeninggal ayahnya, kedua putra tersebut saling ribut dan bersikeras bahwa orang tuanya telah bertindak tidak adil karena anak yang lain mendapatkan harta warisan yang lebih banyak dari dirinya.

Karena keributan yang tak kunjung selesai dan bahkan makin memuncak,
orang-orang sekitar mengusulkan keduanya untuk membawa masalah mereka ke pengadilan.

Di pengadilan Sang Hakim yang dikenal sangat pandai dalam menangani kasus-kasus yang rumit, dengan sabar dan hati-hati mendengarkan keterangan dari kedua orang putra orang kaya tersebut secara bergantian.

Lantas, sang Hakim berkata, "Tuliskanlah semua harta kekayaan yang dikatakan oleh orang tuamu telah diwariskan untuk kalian masing-masing. Jangan sampai ada yang ketinggalan karena harta yang ternyata tidak tercantum dalam tulisan tersebut akan menjadi milik umum". Demikian teliti keduanya dalam menuliskan semuanya dalam daftar masing-masing.

Setelah selesai, hakim kemudian meminta keduanya untuk saling bertukar daftar dan memeriksa secara teliti daftar dari saudaranya. "Apakah kalian masih merasa bahwa warisan dari saudaramu lebih banyak dari yang kalian terima untuk diri masing-masing ?".

Tanpa ragu keduanya segera menjawab, "Iya Pak Hakim, orang tua saya memang tidak adil. Harta yang diwariskan kepada saudara saya jauh lebih banyak daripada yang kuperoleh. Kami meminta penyelesaian yang seadil-adilnya".

"Baiklah, karena kalian masing-masing menganggap bahwa daftar harta yang dimiliki oleh saudara kalian jauh lebih banyak dari daftar kalian sendiri maka silakan untuk saling menukarkan daftar masing-masing dan harta dalam daftar tersebut sekarang menjadi milik kalian".

Sungguh suatu penyelesaian yang sangat sederhana akan tetapi pandai dan adil. Sang Hakim mengecoh kedua putra yang tamak dengan keserakahan mereka sendiri.

Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau daripada rumput sendiri. Padahal setelah pindah ke rumah tetangga dan memiliki rumput tersebut, ternyata tidaklah sehijau rumput sendiri sebelumnya.

Kita kadang sulit berbahagia pada saat mendapatkan sesuatu lantaran kita ingin lebih dari yang baru saja kita dapatkan. Kita menjadi sulit bersyukur karena kita sendiri menetapkan syarat-syarat untuk bahagia yang terlalu berat. Padahal dalam posisi apapun kita saat ini, ada orang yang sedang menginginkan menjadi ”seperti kita”.

Kita sendirilah yang akhirnya menyulitkan gerakan kita untuk maju. Petuah yang sederhana, jika mau maju, bergeraklah maju, tak perlu terlalu sering menoleh kanan-kiri.***

Thursday, April 21, 2011

PERUBAHAN PARADIGMA


Suatu hari Minggu di kereta bawah tanah New York. Para penumpang sedang duduk dengan tenang. Sebagian membaca surat kabar, sebagian sedang melamun, sebagian lagi menikmati istirahat dengan mata terpejam.

Tiba-tiba, seorang pria dan anak-anaknya masuk kedalam gerbong. Anak -anak tersebut begitu berisik dan ribut tak terkendali sehingga segera saja keseluruhan suasana berubah. Pria tersebut duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya, agaknya tidak peduli akan situasi saat itu. Anak-anaknya berteriak-teriak, melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang dibaca orang. Sungguh, sangat mengganggu. Anehnya, pria yang duduk di sebelah saya tidak berbuat apapun. Sulit untuk tidak merasa jengkel. Saya tak mengerti ia dapat begitu tenang membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka, sama sekali tidak bertanggung jawab. Sangat terlihat bagaimana semua orang di dalam gerbong merasa terganggu.

Demikian Stephen R Covey mengawali kisah pengalamannya yang tidak terlupakan dalam sebuah bukunya. Dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa, Steven menoleh ke arah lelaki itu dan berkata, ”Tuan, anak-anak anda benar-benar mengganggu banyak orang. Dapatkah anda mengendalikan mereka?”

Orang itu mengangkat dagunya seolah baru tersadar akan situasi di sekitarnya lalu berkata dengan sedih, ”Oh, anda benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit dimana istri saya meninggal beberapa jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berbuat apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan ibunya telah tiada.” 

Seketika itu perasaan Stephen berubah seratus delapan puluh derajat. Kejengkelan Stephen hilang seketika. Ia tidak lagi perlu mengendalikan kesabaran, karena perasaan jengkelnya telah berubang menjadi simpati. ”Oh, saya turut berduka, apa yang dapat saya lakukan untuk membantu anda?” ujar Stephen spontan.

Stephen telah mengalami perubahan fundamental dalam cara berpikir tentang kejadian di sekitarnya, yaitu tentang seorang Bapak dan anak yang membuat gaduh dalam gerbong kereta.

Peristiwa ini adalah gambaran tentang perubahan paradigma. Anda pernah mengalami hal serupa? Sungguh beruntung, bila kita dapat mengambil hal-hal positif dari sebuah kekuatan perubahan paradigma. Dalam pergaulan manusia, kekuatan ini dapat membuat perubahan yang fantastis dalam diri seseorang. Banyak pertengkaran antar manusia, pergolakan antar kelompok, peperangan maupun percintaan mengalami perubahan drastis akibat perubahan paradigma.

Jaman kolonialisme, negara yang menjadi kolonial sangat bangga akan dirinya. Lantas terjadilah perubahan paradigma tentang perdamaian dunia, sehingga negara yang mengekspoatasi penderitaan negara lain dikucilkan. Kita sering mengatakan ”jaman telah berubah”, dan itu adalah hasil dari perubahan paradigma. Kata Stephen, bila ingin mengalami perubahan kecil, kita dapat merubah sikap dan perilaku kita. Sedangkan jika ingin mengalami perubahan besar, yang harus dirubah adalah paradigmanya.

Perubahan paradigma yang populer setidaknya sejak negeri ini mengalami reformasi tahun 1997, pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khun dalam bukunya yang amat berpengaruh, The Structure Of Scientific Revolution. Kuhn mengatakan, hampir setiap terobosan penting dalam bidang keilmuan, merupakan pemutusan tradisi pola pikir lama.

Ratusan tahun lalu, Ptolomeus mengatakan bumi adalah pusat alam semesta. Kemudian semenjak Copernicus mengatakan matahari sebagai pusat alam semesta, segala cara pandang tentang alam semesta langsung berubah, dan terjadilah perubahan besar dalam kajian ilmu alam sejak itu.

Demikian pun dalam ilmu kedokteran. Sebelum teori bakteri dikembangkan, banyak anak dan wanita meninggal dalam proses persalinan dan tak seorang pun mengerti penyebabnya. Dalam pertempuran lebih banyak prajurit yang meninggal karena luka kecil dibanding dengan kematian akibat serangan di garis depan. Segera setelah teori bakteri dikembangkan, sebuah paradigma baru yang lebih baik, dapat meningkatkan pemahaman tentang apa yang sebenarnya terjadi yang membuat terjadinya perubahan dramatis dan sangat berarti dalam dunia kedokteran dan kedokteran hewan.

Dalam soal mikro di perusahaan, di keluarga dan hubungan antar manusia, kita dapat mengalami perubahan paradigma terhadap sesuatu masalah, tatkala kita mendapatkan informasi yang sebelumnya tersimpan entah dimana. Sama seperti kisah Stephen di kereta tadi. Kita bisa membenci tokoh masyarakat dan berubah menjadi kagum karena perubahan paradigma.

Perubahan paradigma bukan saja karena ketidaksengajaan. Kita dapat merubah dengan menggali informasi lebih dalam.***

Tuesday, April 19, 2011

Berbaiklah kepada Ibu Mertua (Dan Ke Orang Lain Juga)

 Alkisah, di sebuah desa di Negeri Tiongkok hiduplah sepasang suami istri bersama ibu dari sang suami. Ibu ini bagi sang menantu putri adalah seorang  mertua yang kejam. Sebaliknya bagi sang ibu mertua, menantunya adalah seorang anak yang kurang berbakti pada ibu mertuanya, apalagi setelah menikah beberapa tahun, belum juga ia memberikan seorang cucu. Kerap kali keburukan sang menantu ia ceritakan kepada tetangganya.
 
Begitulah, apapun yang dilakukan oleh sang menantu, ibu mertuanya hampir selalu mencelanya. “Berbuat sopan, dicemooh, apalagi berbuat tidak baik,” demikian anggapan sang menantu putri itu.
Karena sudah sedemikian jengkel dan emosi terhadap mertuanya itu, ia tanpa pikir panjang memutuskan untuk membunuh ibu mertuanya dengan cara memberi racun. Diam-diam, ia pergi ke sebuah  toko obat untuk membeli racun dengan harapan esok hari  ibu mertuanya meninggal. 
 
“Tuan, tolonglah saya. Saya sudah tidak tahan lagi hidup bersama ibu mertua saya. Tiap hari saya dimaki, apapun yang saya lakukan, selalu dianggap salah. Tolong berikan saya racun yang dapat membunuh mertua saya,” ujar ibu muda ini kepada pemilik toko obat.
 
“Saya mengerti apa yang kamu rasakan. Saya akan memberikan racun kepadamu agar keinginanmu terwujud,” jawab sang pemilik  toko obat. Legalah hati sang menantu ini.
 
Tapi, kata pemilik toko obat melanjutkan,” jika saya memberi racun yang langsung bereaksi, pasti kamulah yang dituduh membunuh mertuamu. Saya akan memberimu racun yang reaksinya sekitar 6 bulan. Mulai hari ini, abaikanlah apa yang dikatakan ibu mertuamu. Berbuat baiklah kepadanya. Tiap pagi dan sore, berilah ia minum teh kesukaannya, dan campurkan serbuk racun ini  ke dalamnya. Saya yakin jika 6 bulan lagi ibu mertuamu meninggal, tak ada yang mencurigaimu sebagai pembunuhnya.
 
“Baiklah tuan, saya siap melaksanakan saran tuan,” kata ibu muda tadi. Dan bergegaslah ia pulang dengan wajah gembira.
 
Mulai hari itu ia berusaha berbuat baik kepada ibu mertuanya. Tiap pagi dan sore, ia menghidangkan teh kesukaannya, disertai “racun” yang dibelinya di toko obat. Pada awalnya tentu saja, ibu mertua mencibir kebaikan menantunya. Tapi lama-kelamaaan ia melihat bahwa menantunya selalu sabar dan ramah, meski mendapat omelan. Satu bulan berlalu, ibu mertua menyadari bahwa menantunya adalah orang yang sabar dan patuh pada suami. Iapun mulai berubah menjadi baik dan  makin menyayangi menantunya.
 
Jika sang mertua ke pasar, tak  lupa ia membeli makanan kesukaan menantu. Demikian sebaliknya sang menantu sering menyisihkan uangnya untuk membeli makan dan pakaian untuk ibu mertuanya.
Singkat cerita tibalah saatnya 6 bulan  berlalu. Sang menantu mencoba merenungi perjalanan hidup selama 6 bulan bersama mertuanya, yang ternyata telah berubah drastis. Ibu mertuanya kini berubah menjadi sangat menyayangi dirinya. Ia tak lagi membeberkan keburukan dirinya kepada tetangga, malah sebaliknya ia sering memuji menantu putrinya kepada tetangganya. Beberapa temannya yang datang dan melihat kebaikan mertuanya selalu bilang ,” bersyukurlah kau punya seorang ibu mertua yang baik dan menyayangimu,”.
 
Malam itu dikala merenung, ia menangis,  menyesali perbuatannya. Ia mohon ampun kepada Tuhan karena ia telah memberi racun. Ia tidak rela ibu mertuanya meninggal. Ia menangis, dan menangis.
Maka pagi harinya, secara diam-diam ia pergi ke toko obat. “Tolonglah tuan. Sesuai dengan saran tuan, saya telah memberi racun setiap hari ke ibu mertua saya. Sekarang sudah 6 bulan. Tapi ibu mertua saya sekarang sangat menyayangi saya. Tolonglah saya diberi penawar racun supaya ibu saya tidak meninggal,” ujar ibu muda itu.
 
“Anak muda, saya tahu bahwa akhirnya kalian berdua akan saling menyayangi. Jadi tak usah khawatir, yang saya berikan 6 bulan lalu bukanlah racun, tapi obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi mulai sekarang, teruskanlah menjaga hubungan baik  dengan mertuamu,” kata pemilik toko yang bijak tersebut.  
 
Sungguh menyentuh kisah kuno yang saya kutip dari talkshow motivator Andrie Wongso ini. Sebuah cerita yang mengandung pesan mengenai hubungan antar manusia yang selalu diliputi berbagai kesalahpahaman dan perselisihan.
 
Tak hanya di kehidupan keluarga kasus seperti di atas terjadi. Dalam kehidupan antar karyawan, pebisnis, pejabat, politisi, artis atau siapapun kesalahpahaman yang menjadi perselisihan dan pertengkaran dapat dan sering terjadi.
 
Pernah terjadi perselisihan antar percetakan dengan penerbit mengenai lamanya waktu mencetak. Pihak percetakan mengatakan sanggup mencetak buku selama 4 hari. Pada hari keempat penerbit menagih janji hasil cetakan. Jawabannya ,” ya, buku sudah selesai dicetak, tinggal dijilid saja, besok dikirim”
 
Rupanya terjadi kesalahpahaman tentang istilah “selesai cetak”. Bagi percetakan selesai cetak adalah selesai dari mesin cetak, belum dijilid. Sedangkan bagi penerbit “selesai cetak” maksudnya adalah sudah selesai sampai dijilid dan diantar ke alamat pemesan.
Acapkali penyelesaian terhadap masalah seperti itu berlarut-larut karena bukan pokok masalahnya yang diselesaikan tetapi dengan bertengkar soal komitmen, atau bahkan fokus pada sifat personal.
 
Ternyata cara penyelesaian semacam ini sangat boros energi dan waktu. Banyak orang menyelesaikan masalah dengan perasaan marah pada satu orang, sehingga inti persoalannya tidak terpecahkan.  Padahal seorang pakar SDM mengatakan, jika anda memfokuskan diri pada solusi, maka terjadi  penghematan energi dan waktu yang sangat banyak.

Fokus pada solusi akan membuat masalah segera terpecahkan. Seandainya tidak, minimal hati jadi lebih tenang. Dalam kasus di atas, pemilik toko obat tahu bahwa masalahnya bukan pada mertua yang kejam, tapi pada cara mereka berhubungan. Solusinya adalah menantu harus berkomunikasi dengan baik dengan sang mertua. Jika itu yang dilakukan  niscaya terjadi perbaikan hubungan.

Maka berbuat baiklah pada ibu mertua, dan juga pada orang lain.***
dikutip dari buku karya Bambang Suharno JANGAN PULANG SEBELUM MENANG.

Saturday, April 16, 2011

Dimana Letak Batunya


Alkisah di sebuah negeri, terdapat dua orang pensiunan kaya raya yang dikenal sakti karena dapat berjalan di atas air. Keduanya hidup di sebuah bukit dengan panorama indah, nun jauh dari keramaian kota. Satu orang sahabatnya penasaran akan berita tersebut. Maka, suatu hari pergilah ia ke puncak bukit untuk bersilaturahmi ke dua orang sahabatnya. Ia disambut dengan gembira oleh dua sahabatnya, sang pensiunan sakti.

”Apa saja yang kau kerjakan di puncak bukit ini kawan?” tanya pensiunan kota.

“Hidup saya diisi dengan kegiatan rekreasi setiap hari di bukit yang indah ini. Tiap hari saya mancing di danau sana,” kata pensiunan sakti sembari menunjukkan sebuah danau tak jauh dari rumahnya.

“Kalau begitu saya boleh ikut mancing?”

“Dengan senang hati, silakan. Kalau mau ikut, besok bangun jam 5 pagi. Kita sama-sama mancing di atas perahu.”

Begitulah, hari berikutnya mereka bertiga jam 5 pagi sudah berada di atas perahu di pinggiran danau sambil memancing.

Hari mulai siang. Satu orang pensiunan mengatakan, ”Saya sudah lapar, sarapan dulu ah !”.

”Silakan jalan kaki aja, perahu tetap di sini agar saya bisa terus mancing”.

Saat itulah pensiunan kota melihat keajaiban. Sahabatnya langsung menyingsingkan celana dan melangkah di atas air dengan mudahnya.

”Wah ternyata itu benar, sahabat saya sudah bisa berjalan di atas air. Punya ilmu sakti darimana ya?”katanya dalam batin.

Beberapa menit kemudian kawannya balik lagi ke perahu, dengan berjalan di atas air juga.

Jam 9 giliran teman yang satunya mau sarapan. Sama seperti teman yang sebelumnya, pensiunan sakti itu memperlihatkan kehebatannya dengan berjalan di atas air tanpa mempedulikan pensiunan kota.

Jam 10, pensiunan dari kota sudah tak bisa menahan lapar.

 "Kawan kawan, perutku juga mulai lapar,nih?"katanya pada kedua temannya.
Kedua teman pensiunannya serempak menoleh, pada temannya yang dari kota ini. Sebelum mereka mengatakan apa apa, teman yang dari kota itu berkata,
"Oke,oke,saya tahu, melompat-lompat,kan?"
"Kalau sudah tahu, ya silakan,"kata mereka.
Pensiunan yang dari kota itu segera melipat celananya keatas dan melompat ke atas air. Sudah bisa ditebak, pensiunan kota itu tidak dapat seperti pensiuan sakti. Ia langsung gelagapan dan hampir tenggelam. Sambil berenang sebisanya, dia berusaha meraih perahu untuk berpegangan. Kedua temannya segera menarik tangannya, dan mengangkat keatas perahu. Akhirnya perahu dibawa ketepi, untuk memberi pertolongan pada teman yang dari kota ini.
"Salah kamu juga, sih!" kata pensiunan pertama.
"Salah kamu!" kata pensiunan kedua tak mau kalah.
"Oke, salah kita berdua, kenapa tadi kita tidak beri tahu dia di mana letak batunya,” kata pensiunan pertama.
Ya, itulah rahasianya. Kisah yang sangat menarik dari Tung Desem Waringin, pelatih sukses nomor satu Indonesia versi majalah Marketing.
Di danau itu ada batu batu rahasia untuk pijakan kaki mereka, sehingga kalau sedang memancing di tengah danau dan mereka lapar, bisa memudahkan mereka untuk pulang ke rumah tanpa membawa perahu ke tepian. Bukan mereka sakti, atau punya ilmu silat tingkat tinggi seperti anggapan temannya yang dari kota itu. Karena dia tidak tahu di mana letak batu batunya, dia beranggapan temannya punya ilmu magic.
Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat fenomena magic ini. Ada salesman yang bisa menjual pada seorang klien yang sulit, sementara yang lain ditolak mentah-mentah meskipun sudah memberi kunjungan sepuluh kali!Atau ada seseorang yang sangat ahli di bidang tertentu, sehingga bisa melakukan sesuatu yang rumit menjadi kelihatan sederhana dan mudah, sehingga bagi orang lain kelihatan seperti memiliki ilmu magic.

Para pesulap adalah mereka yang pintar menggunakan taktik tertentu sehingga kita terkagum-kagum. Namun jika kita sudah mengetahui prosesnya, kita akan menngatakan, tak ada yang istimewa. Ini terjadi karena kita sudah tahu ”dimana letak batunya”.

Mengetahui ”dimana letak batunya” menjadi penting buat kita yang ingin menjadi hebat. Letak batu yang dimaksud adalah inti dari masalah yang kita hadapi. Di kantor, mungkin kita mungkin terbiasa mengadakan rapat berjam-jam untuk membahas masalah tertentu, padahal jika sudah mengetahui inti masalahnya, kita dapat segera mengetahui ”dimana letak batunya”.
Mengetahui letak batunya, adalah kunci pembuka pintu kesulitan. Boleh jadi kita tergagap-gagap memasuki tugas baru, menduduki jabatan baru, pindah ke lingkungan baru, namun ketika sudah mengetahui letak batunya, kita dapat lebih cepat menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Janganlah terburu-buru heran dan terkagum-kagum dengan kehebatan orang lain, siapa tahu anda pun bisa seperti mereka. Bolehlah anda kagum dengan seseorang, namun jika kekaguman itu membuat anda berada pada posisi sekedar sebagai pengamat saja, mungkin hal itu malah mengkerdilkan anda.*** dikutip dari buku Bambang Suharno: Jangan Pulang Sebelum Menang.


Tuesday, April 5, 2011

Rahasia Di Balik Kesulitan

Di sebuah kota di Timur Tengah, hiduplah seorang gadis bernama Fatimah.
Ayahnya seorang pemintal yang sukses. Suatu hari ayahnya akan mengadakan
perjalanan jauh untuk memasarkan hasil pintalannya sekaligus membawa misi berlayar sambil "mencari" pendamping hidup Fatimah.

Mereka berlayar melalui pulau-pulau. Namun di tengah perjalanan, kapalnya diterjang badai hingga hancur. Fatimah tidak sadarkan diri. Saat tersadar, Fatimah sudah terbaring di pantai Alexandria. Sang Ayah dan semua awak kapal tewas. Ia menjadi miskin dan hidup seorang diri.

Tatkala Fatimah berjalan menelusuri pantai, sebuah keluarga pembuat kain menemukannya. Diajaknya Fatimah ke rumah dan diajarinya ia membuat kain. Itulah kehidupan kedua yang dijalani Fatimah. Lama-kelamaan Fatimah menjadi betah dan bahagia. Ia menjadi mahir untuk membuat kain. Dan dia pun melupakan penderitaannya.

Namun suatu hari, saat Fatimah sedang berada di pantai, sekelompok pedagang budak
mendarat dan membawa Fatimah pergi bersama tawanan-tawanan yang lain. Fatimah
dibawa untuk dijual sebagai budak. Dunia seakan  runtuh untuk kedua kalinya. Beberapa pembeli telah berkumpul untuk memilih budak-budak. Untunglah ada orang baik yang membawa Fatimah untuk membantu istrinya di rumah, bukan sebagai budak. Orang itu sebenarnya sedang mencari budak untuk dipekerjakan membuat tiang-tiang kapal, namun ketika melihat Fatimah, dia merasa iba dan mencoba untuk menolongnya.

Malang tak dapat ditolak, di perjalanan menuju rumah, Fatimah beserta majikannya bertemu dengan rombongan perompak. Semua harta milik majikan Fatimah dirampas. Mereka jatuh miskin. Fatimah terpaksa membantu belajar membuat tiang-tiang kapal, sebuah pekerjaan yang kasar untuk ukuran seorang gadis cantik dan lembut seperti Fatimah. Namun ia jalani kehidupan itu, hingga akhirnya ia mahir membuat tiang-tiang kapal.

Walau begitu, Fatimah berterima kasih pada majikannya, karena telah menyelamatkannya dari gerombolan penjual budak. Dan karena ketekunan dan kerajinannya, sang majikan memberi kepercayaan besar pada Fatimah,
sehingga Fatimah sangat bahagia untuk yang ketiga kalinya.

Suatu hari, majikannya berkata, "Fatimah, aku ingin kamu pergi dengan kargo
berisi tiang-tiang kapal ke Pulau Jawa, dan pastikan kau menjualnya dengan harga yang menguntungkan”. Fatimah pun mengiyakannya dan dengan langkah mantap ia berangkat.

Ketika melewati Laut Cina, kapalnya dihantam topan besar. Lagi-lagi Fatimah terdampar di sebuah pantai yang asing baginya. Fatimah kembali meratapi nasibnya yang bertubi-tubi ditimpa kemalangan. Dengan sisa-sisa tenaganya, Fatimah melangkah ke Pedalaman.

Waktu itu ada legenda yang beredar, bahwa suatu hari akan datang seorang perempuan asing yang mampu membuat tenda istimewa untuk sang Kaisar. Tak seorang pun di Cina yang mampu membuat tenda, maka mereka berharap hal ini akan terwujud.

Ketika Fatimah memasuki sebuah kota di Pantai Cina, seorang tentara kerajaan mengajaknya menghadap sang Kaisar ke Istana. "Bisakah kamu membuat tenda?" tanya Kaisar kepada Fatimah. "Ya, saya bisa Tuan," jawab Fatimah lembut.

Fatimah meminta seutas tali, namun tak seorang pun memilikinya. Ia pun segera
mengumpulkan batang rami, dan memintalnya menjadi untaian tali. Ia teringat saat
membantu ayahnya sebagai pemintal tali. Lalu Fatimah meminta kain, namun tak seorang pun yang mengenal kain. Maka Fatimah dengan pengalamannya di Alexandria, pada sebuah keluarga yang menolongnya, ia menyiapkan diri untuk membuat kain.

Fatimah kemudian meminta tiang, namun tidak ada sebuah tiangpun di negeri Cina. Fatimah dengan pengalamannya bekerja dengan tukang pembuat tiang kapal di Istambul, mulai mencari batang kayu dan menyiapkannya menjadi tiang.

Dan ketika semuanya telah siap, Fatimah memutar kembali pengalamannya selama
dalam perjalanan, tentang tenda-tenda yang pernah dilihatnya, sejauh perjalanannya menjelajahi manis pahitnya dunia. Akhirnya, dengan ketekunan, keuletan, kesabaran dan ketelitiannya jadilah sebuah tenda yang kuat dan sangat indah.

Ketika melihat tenda buatan Fatimah, semua orang terkagum-kagum. Sang Kaisar
yang tampan menawarkan akan memberi apa saja yang diinginkan Fatimah. Fatimah
akhirnya memilih untuk tinggal di Negeri Cina dan menikah dengan Pangeran. Mereka hidup bahagia bersama anak-anak. (Dikutip dari buku Time To Change, Hari Subagya)

Di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Begitulah gambaran dari kisah di atas. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kesulitan begitu nyata mendekati kita, hingga kita tidak tahu lagi harus berbuat apa. Namun apapun kesulitan itu, kita percaya di baliknya ada kemudahan.

Seorang yang bercita-cita menjadi pengusaha peternakan mencoba memprtaktekan petuah itu ketika wabah Avian Influenza (AI) alias Flu Burung melanda Indonesia. Tahun 2004-2005 bisnis perunggasan mengalami ujian berat berupa wabah AI. Ujian itu datang bukan hanya karena banyak ayam mati, melainkan juga karena banyak orang ”istirahat” makan daging dan telur ayam. Permintaan menurun, harga langsung jatuh. Rentetannya, peternak juga tak berani melakukan peremajaan ayamnya.

Ibarat sedang perang, hampir semua pelaku bisnis ayam tiarap, sambil menunggu situasi aman. Nah, di sinilah bedanya dengan Suparwo, pemilik SJF Farm di Maros, Sulawesi Selatan. Waktu itu tahun 2004, ia melihat begitu sulitnya masalah yang dihadapi peternak. Harga pullet (ayam remaja siap bertelur) sangat murah.

Di balik kesulitan, ada kemudahan. Di balik tantangan pasti ada peluang. Karena hampir semua peternak tiarap, Suparwo justru berani memulai usaha. Modalnya jauh lebih murah dibanding memulai usaha di masa normal. Ia mendapatkan harga pullet sangat murah dan ketika ia mulai panen telur, harga sudah mulai membaik.

Suparwo telah membuktikan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. Apapun kesulitan yang kita hadapi, pasti ada cara mudah untuk menyelesaikannya. Sama halnya ketika saya mengerjakan test matematika dan fisika di sekolah yang waktu itu saya berpikir, ini soal sulitnya minta ampun. Rupanya setelah diajari cara menyelesaikannya, saya berubah pikiran. Soal test ini mudah. Karena sejatinya kemudahan itu ada, hanya saja saya belum menemukannya.

Petuah ”di balik kesulitan ada kemudahan” setidaknya mengandung dua pengertian. Pertama, dalam kisah fatimah, kesulitan-kesulitan yang dihadapi fatimah dikemudian hari menjadi senjata ampuh dalam meraih kemudana. Dalam hal ini, maknanya adalah hadapilah kesulitan sebesar apapun dengan ikhlas, kelak engkau akan mendapatkan kemudahan.

Makna kedua, kesulitan yang kita hadapi belum tentu sulit bagi orang lain yang sudah tahu cara menghadapinya.  Itulah sebabnya setiap ada kesulitan, bertanyalah kepada orang yang tepat, yakni yang berpengalaman menghadapi kesulitan serupa. Hasilnya, anda akan mendapatkan solusi atas kesulitan yang dihadapi, Menghadapi kesulitan juga perlu ketegaran. Jangan berhenti melangkah hanya gara-gara hambatan. Teruslah berusaha. Karena Tuhan menyediakan hadiah bagi manusia yang kuat menghadapi cobaan. Kata pak Ustad, jika kita sanggup mengatasi satu kesulitan, hadiahnya adalah dua kemudahan. Semoga.***