Sunday, March 27, 2011

Rahasia Meraih Keberuntungan


Ingin tahu bagaimana kiat meraih keberuntungan? Cobalah buka mesin pencari google di internet, dan ketiklah kata keberuntungan. Bukan main, ada begitu banyak informasi mengenai keberuntungan. Ini pertanda bahwa banyak orang mencari informasi keberuntungan, baik yang logis maupun tidak logis. Di internet ada informasi yang menawarkan perhitungan angka keberuntungan melalui primbon, banyak pula juga petuah bijak perihal keberuntungan, ada diskusi keberuntungan VS kesialan. Dan di antara semua itu, yang paling populer adalah kegiatan Prof  Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris. Dia adalah pakar yang sangat terkenal atas karyanya mengenai keberuntungan. Salah satu bukunya berjudul Luck Factor.

          Professor ini rupanya menyadari bahwa masyarakat haus akan informasi mengenai keberuntungan. Dan hebatnya, dia memberanikan diri untuk meneliti bagaimana perbedaan orang yang beruntung dan orang sial alias malang. Dari penelitian ini, kemudian ia mendirikan sekolah keberuntungan (luck school). Muridnya adalah orang-orang yang sering merasa dirinya sial dalam hidup. Ada-ada saja profesor yang satu ini!

            Di Indonesia, hasil karya Wiseman menjadi referensi penting oleh penulis-penulis motivasi Indonesia, antara lain Bong Chandra, Ahmad Faiz dan Fauzirahmanto. Penelitian Wiseman yang terkenal adalah ketika dia merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung (si untung), dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial (si malang). Dari sini dia dapat menyimpulkan bahwa ternyata dalam kehidupan sehari-hari si untung melakukan respon yang berbeda dengan si malang terhadap segala sesuatu yang dialaminya. Respon itulah yang menyebabkan dia beruntung atau sebaliknya.

            Misalnya, dalam salah satu penelitian, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang-orang dari kelompok si Malang memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja!

          Ya, karena pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompok si Malang melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar, bahkan tak percaya dengan kalimat itu. Memang benar-benar sial.  

            Singkat kata, selanjutnya Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan si untung dan si malang.

            Pertama, lebih terbuka terhadap peluang. Si Untung lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Si Untung juga memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal. Si Malang lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

            Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!”

Ini hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber secara reflek berpikir,  mungkin pria di sebelahnya adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika. Maka Helzberg langsung menyapa pria itu, siapa tahu ia memang Warren Buffet. Ternyata betul! Perkenalan pun terjadi dan setahun kemudian Buffet membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Oh, Barnett betul-betul beruntung!

Kedua, Si Untung bisa mengambil keputusan yang baik tanpa berpikir panjang. Mereka pandai menggunakan intuisi, sepertinya tahu kapan mengambil keputusan yang baik dan kepada siapa ia harus percaya atau tidak percaya. Sementara sebaliknya, si Malang justru cenderung berpikir rumit dan ragu mengambil keputusan.

Bagi si Untung, analisa angka-angka sangat membantu, tapi final decision umumnya berasal dari intuisi yang baik. Yang barangkali sulit bagi si Malang adalah bisikan hati nurani tadi akan kurang bisa didengar jika otak pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya Si Untung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi akan semakin tajam.
Ketiga, selalu berpikiran baik bahwa kebaikan pasti datang. Si Untung selalu ge-er terhadap kehidupan. Mereka berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian, dan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja kita tanya ke si Untung, bagaimana prospek bisnis tahun depan. Seberapa beratpun situasinya, si Untung akan menceritakan optimisme dan harapan. Hal sebaliknya kalau kita tanya ke si Malang. Ia akan bicara tentang kesulitan dan ancaman kesengsaraan. Yah, namanya juga si Malang.
Keempat, mengubah hal yang buruk menjadi baik. Si Untung selalu bijak dalam menghadapi situasi buruk, lantas merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi si Malang adalah: “wah sial bener ada di tengah-tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi Si Untung, misalnya adalah, “ini sejarah hidup yang tak terlupakan, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media”. Apapun situasinya si Untung pokoknya untung terus.

Sementara si malang hanya bisa menggerutu dan meratap ketika menghadapi sebuah kejadian buruk.

Ada cara untuk merubah si Malang menjadi si Untung, yaitu dengan menjadi murid Prof Wiseman di Luck School. Di sekolah ini Wiseman memberikan tugas ke si Malang untuk membuat Luck Diary, buku harian keberuntungan. Setiap hari, si Malang harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya terjadi kesulitan, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, hari berikutnya semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Ya, seperti juga kata motivator dunia Anthony Robbin, kita adalah sutradara bagi kehidupan kita sendiri. Semakin positif kita bereaksi, semakin baik pula jalan kehidupan kita. Demikian halnya dengan hukum pikiran Law of Attraction (Rhonda Byrne), bahwa segala hal yang terjadi berawal dari pikiran kita.  Tak jauh beda pula dengan kata pak Ustad, semakin kita pandai menyukuri nikmat yang kita terima, Tuhan akan menambah (keberuntungan) lebih banyak lagi.

Tinggal pilih, mau jadi Si Untung atau Si Malang?***

Menyikapi Perubahan


Perubahan (change) menjadi tema sangat penting di masa sekarang. Renald Kasali menulis buku Change yang disusul dengan Re-code Your Change DNA. Begitupun Presiden baru AS Barack Obama yang mengusung tema perubahan. Tema kampanye beberapa calon presiden Indonesia juga sebagian mengusung tema yang senada. Dunia terus berubah, dan perubahan semakin cepat. Celakanya, banyak orang yang tidak ingin berubah. Kita menyebutnya status quo.

Jaman dahulu kala di era berburu dan meramu, masyarakat purba sangat mudah mencari makan. Mereka masuk hutan dan langsung mendapat makanan apapun dengan gizi yang terjamin. Bisa makan buah, sayuran maupun daging panggang. Bayangkan seandainya di waktu itu anda hidup, terus tiba-tiba ada seseorang yang berocok tanam dan memelihara ternak. Waktu itu banyak orang mentertawakan, mungkin saja termasuk anda. “Buat apa capek-capek menanam, sedangkan di hutan masih berlimpah makanan,” begitu kira-kira komentar sinis masyarakat, tentunya dengan bahasa manusia jaman itu.

Beberapa bulan kemudian orang yang menanam itu tidak lagi keluar masuk hutan. Ia bisa bersantai menikmati hidup dan bisa menetap dan membangun tempat tinggal. Mata masyarakat mulai terbelalak. “Ooh,  rupanya dia yang lebih baik. Capai di depan, hasil lebih banyak di belakang. Hidup pun lebih nyaman”, kata mereka dengan komentar positif, tak lagi mencemooh. Sejak itu masyarakat mulai mau berubah. Mereka memasuki era yang disebut era pertanian. Konon era ini kecepatan kerja era pertanian 50 kali lipat dibanding era berburu.

Ratusan tahun kemudian, terjadi perubahan besar yang tingkat kecepatannya 50 kali lipat dibanding era pertanian. Pertanian tak lagi hanya memindahkan tanaman dan hewan dari hutan ke ladang, melainkan dibuat dengan perhitungan skala ekonomi, pembuatan spesifikasi bidang usaha dan pengembangan bermacam produk. Ada orang yang khusus membuat pupuk, ada yang khusus menanam bibit, ada yang khusus membuat obat, ada yang khusus memasarkan. Banyak pula yang lebih tertarik mengolah hasil pertanian. Penemuan kendaraan dan teknologi pendukungnya makin mempercepat perubahan besar ini. Kita menyebutnya era industri. Dalam artikel beberapa edisi lalu saya sempat menulis, di era industri, tanah produktif bukan lagi hanya lahan subur. Ada orang kreatif yang menyulap lahan tandus dengan hasil yang berlipat dibanding tanah subur. Caranya adalah dengan membangun pabrik atau perumahan.

Begitulah, perubahan terus terjadi. Kita selalu memasuki dunia baru. Sepuluh tahun lalu masih sedikit orang menggunakan telepon seluler, sekarang pemulung sampah, pembantu rumah tangga, bahkan pengemis pun memiliki telepon seluler. Penggunaan internet juga melonjak sedemikian cepat. Konon di Indonesia pengguna internet naik di atas 50% per tahun. Kita dapat menyebut era informasi, ada juga yang menyebut era pekerja pintar. Orang kaya di era ini tidak harus punya pabrik baja atau kilang minyak ataupun lahan pertanian. Mereka bisa hebat dengan hidup dari royalti atas hak cipta, ada juga yang hebat karena jual beli surat berharga.

Di tengah perubahan ini, termasuk perubahan dalam skala mikro di lingkungan kerja atau lingkungan masyarakat, ada saja orang yang suka bernostalgia tentang indahnya masa lalu dan menyesali masa sekarang. Ada pula yang tidak sadar adanya arus perubahan. Dr. Soehadji pernah mengatakan, di setiap perubahan, selalu ada empat kelompok orang, yakni orang-orang yang memimpin perubahan, orang yang selalu menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi, orang yang menolak perubahan, dan yang paling celaka adalah orang yang tidak sadar akan adanya perubahan.

Orang yang menolak perubahan sering menyesali masa sekarang dan senang bernostalgia tentang masa lalu. “Dulu waktu si B memimpin, kita hidup enak, tidak seperti sekarang apa-apa serba sulit”. Kenyataannya, pada waktu dulu si B memimpin pun ia mengatakan “dulu waktu si A memimpin hidup lebih nyaman, tidak seperti si B sekarang”.

Orang-orang yang menolak perubahan sering tampil sebagai orang yang kelihatan cerdas tapi lebih suka menjadi pengamat, padahal sesungguhnya dialah pelakunya. Melihat keberhasilan orang dia bilang beragam nada sinis, misalkan,” itu gampang, saya sebenarnya juga bisa lebih dari itu kalau ada modal, Dia seperti itu juga kurang optimal”.

Melihat kegagalan orang ia berkomentar,” wah kok bisa begitu ya, mestinya kan begini!”.

Pembaca, kita tahu, tak ada orang hebat yang kerjanya hanya menyalahkan orang lain. Mereka yang hebat senantiasa bertindak untuk merubah dirinya. Para pemimpin hebat memimpin perubahan menjadi lebih baik. Pribadi-pribadi yang hebat selalu berusaha berubah menjadi lebih baik. Dan itu semua tidak tergantung pada usia manusia. Mario Teguh bahkan berpendapat, orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan (selalu menyesuaikan dengan perubahan) adalah orang muda yang tak pernah menua, sedangkan orang muda yang berorientasi pada keamanan alias tidak ingin berubah, merekalah pribadi yang sudah menua di masa muda.
Kata Mario Teguh, melakukan perubahan membutuhkan keberanian. Sedangkan keberanian itu akan muncul dari orang yang punya rasa takut. Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani. Maka jangan takut terhadap rasa takut anda. Takut adalah modal untuk berani.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan ketakutan akan perubahan adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah solusi atas masalah yang kita hadapi. Ayo berubah !***

Terima Kasih


Malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana diusir ibunya dan segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat sampai di suatu tempat, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Ia menyusuri sebuah jalan, melewati sebuah kedai bakmi dan mencium
harumnya aroma masakan.
Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi
tak ada uang di dompetnya.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu
berkata "Mbak ingin memesan semangkuk bakmi?"

" Ya, tetapi, aku tidak membawa uang," jawab Ana dengan malu-malu

"Kamu kelihatan capai sekali. Tidak apa-apa, aku akan kasih kamu gratis," jawab si pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana
segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada
apa mbak?" Tanya si pemilik kedai.

"Tidak apa-apa, aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air
matanya.

"Seorang yang baru kukenal mau memberi aku semangkuk bakmi. Sedangkan, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah," katanya terbata-bata.

"Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan
dengan ibu kandungku sendiri," tambahnya lagi.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang
dan berkata "Mbak, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal
ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu
telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini,
mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar
dengannya!"

Ana, terhenyak mendengar kalimat tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal ini?  Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya?”.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk
segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan
kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu
rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau
tidak memakannya sekarang".

Saat itu Ana tidak dapat lagi menahan tangisnya. (sumber : M Rian Rahardi).

Saturday, March 26, 2011

MY FAMILY

MEMAHAMI MOTIVASI MANUSIA

Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.

Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi.Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan motivasi.

Sejarah Teori Motivasi

Tahun 1950an merupakan periode perkembangan konsep-konsep motivasi.[2] Teori-teori yang berkembang pada masa ini adalah hierarki teori kebutuhan, teori X dan Y, dan teori dua faktor. Teori-teori kuno dikenal karena merupakan dasar berkembangnya teori yang ada hingga saat ini yang digunakan oleh manajer pelaksana di organisasi-organisasi di dunia dalam menjelaskan motivasi karyawan.

Hierarki Teori Kebutuhan

Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham Maslow. [3] Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).

Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas. Perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal.

Teori kebutuhan Maslow telah menerima pengakuan luas di antara manajer pelaksana karena teori ini logis secara intuitif. Namun, penelitian tidak memperkuat teori ini dan Maslow tidak memberikan bukti empiris dan beberapa penelitian yang berusaha mengesahkan teori ini tidak menemukan pendukung yang kuat.

Teori X dan teori Y

Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan. Kesimpulan yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.

Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X.

* Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
* Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
* Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
* Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.

Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.

* Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
* Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
* Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab. *Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.

Teori motivasi kontemporer
David McClelland, pencetus Teori Kebutuhan

Teori motivasi kontemporer bukan teori yang dikembangkan baru-baru ini, melainkan teori yang menggambarkan kondisi pemikiran saat ini dalam menjelaskan motivasi karyawan.

Teori motivasi kontemporer mencakup:
Teori kebutuhan McClelland

Teori kebutuhan McClelland dikembangkan oleh David McClelland dan teman-temannya. Teori kebutuhan McClelland berfokus pada tiga kebutuhan yang didefinisikan sebagai berikut:

*
o kebutuhan berprestasi: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.
o kebutuhan berkuasa: kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
o kebutuhan berafiliasi: keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab.

Teori evaluasi kognitif


Teori evaluasi kognitif adalah teori yang menyatakan bahwa pemberian penghargaan-penghargaan ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya memuaskan secara intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi secara keseluruhan.[6] Teori evaluasi kognitif telah diteliti secara eksensif dan ada banyak studi yang mendukung.

Teori penentuan tujuan


Teori penentuan tujuan adalah teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Artinya, tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan.

Teori penguatan


Teori penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan.

Teori Keadilan


Teori keadilan adalah teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan.

Teori harapan


Teori harapan adalah kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut.

Area motivasi manusia


Empat area utama motivasi manusia adalah makanan, cinta, seks, dan pencapaian.[10] Tujuan-tujuan yang mendasari motivasi ditentukan sendiri oleh individu yang melakukannya, individu dianggap tergerak untuk mencapai tujuan karena motivasi intrinsik (keinginan beraktivitas atau meraih pencapaian tertentu semata-mata demi kesenangan atau kepuasan dari melakukan aktivitas tersebut), atau karena motivasi ekstrinsik, yakni keinginan untuk mengejar suatu tujuan yang diakibatkan oleh imbalan-imbalan eksternal

sumber: wikipedia

KIAT BISNIS

Friday, March 25, 2011

Hukum Kelaziman (dari buku Jangan Pulang Sebelum Menang)

Hukum Kelaziman
Cobalah sekali waktu anda bertanya ke orang di sudut jalan kota Jakarta, “dimanakah letak Komdak?”. Hampir semuanya akan segera menunjuk sebuah tempat bertuliskan Polda Metro Jaya yang berlokasi di dekat Jembatan Semanggi.
Jangan kecewa, di sana tidak ada tulisan Komdak. Komdak itu sendiri entah nama apa, mungkin dulunya bernama Komando Daerah Kepolisian disingkat Komdak. Begitu melekatnya nama Komdak, penduduk Jakarta sudah tidak peduli lagi dengan pergantian nama. Bahkan singkatan Komdak pun jarang yang tahu, termasuk saya.
Perubahan nama Komdak menjadi Polda tentunya punya maksud baik. Tapi dalam kehidupan masyarakat, termasuk dunia bisnis, ada semacam hukum dimana yang sudah terbiasa dipakai konsumen, itulah yang dianggap benar. Kita menyebutnya kelaziman.
Tanadi Santoso, seorang konsultan bisnis, punya cerita menarik mengenai keyboard  komputer (lihat www.tanadisantoso.com). Suatu hari anaknya bertanya, ”Pap, keyboardnya komputer ini kok ngatur ’abc’-nya seperti ini ? Kok bisa susunannya ’qwerty’. Bukankah ’a’ seharusnya di sebelah sini bukan di sebelah sana. Mengapa ?”

Pertanyaan tersebut bisa jadi mewakili pertanyaan saya dan banyak orang, dimana sebelumnya saya tidak dapat menemukan jawabannya. Pernah saya ditanya hal yang sama, jawaban saya,” ini kemungkinan merupakan hasil kesepakatan internasional” (jawaban orang dewasa supaya tidak kelihatan bego hahaha).

Menurut Tanadi, dulu pada saat belum ada komputer, orang mengetik menggunakan mesin ketik. Mesin mekanikal yang butuh dorongan tenaga dari jari-jari kita. Kalau ditekan 2 huruf sama cepatnya sering nyantol. Kalau huruf-huruf ditata sedemikian gampang ditekan dengan jari telunjuk, apa yang akan terjadi ? Orang akan mengetik terlalu cepat menjadikan mesin tiknya cepat rusak. Sehingga untuk membuat supaya lebih lambat, sengaja dibuat sulit. Sengaja dibuat tidak enak agar mengetiknya perlahan-lahan.

Dan menariknya setelah ditemukan komputer, keyboardnya tetap mengikuti pola mesin ketik. Meski ditemukan cara penyusunan huruf yang baru, sehingga bisa lebih enak lagi, bisa lebih cepat lagi, tapi tetap saja orang-orang akan memakai susunan ’qwerty’ ini. Karena apa ? Karena sudah menjadi kebiasaan orang. Karena semua orang sudah lazim memakai cara ini. Semua orang sudah belajar tentang cara yang ini.

Kisah Komdak maupun keyboard komputer hakekatnya sama. Yang sudah lazim dipakai masyarakat itulah yang mendominasi masyarakat, dalam bahasa bisnis, dikatakan mendominasi pasar. Dari kisah ini kita dapat melihat bahwa sebuah hal yang baik belum tentu paling banyak dipakai oleh orang. Kalau anda masih ingat jaman video dulu, ada dua jenis video yang saling bersaing, yaitu Betamax vs VHS. Betamax secara teknologi lebih kecil, lebih bagus, lebih canggih, tapi VHS lebih mendunia. Kenapa ? Karena VHS keluar lebih dulu dan lebih diterima orang-orang.

Software pun juga sama. Kenapa semua orang pakai Microsoft Office ?
Karena orang lain pakai ini semua. Ini menjadi sebuah kebiasaan. Maka kita harus sadar bahwa yang paling laku, paling sukses belum mesti sesuatu yang paling bagus. Bahwa secara logis ”yang terbaik adalah yang berhak atas kesuksesan” itu memang benar, tapi kenyataan berbicara berbeda.

Jadi "qwerty" keyboard bukanlah cara menulis terbaik, tapi mempunyai hak untuk mendapatkan "kesuksesan" seperti sekarang. Karena alasan lebih dulu terpakai orang, sehingga orang menjadi malas mengubahnya.
Dan ternyata semua orang di dunia memakai ini semua. pi

Istilah Komdak juga menjadi nama “resmi” masyarakat karena nama itulah yang lebih dulu populer. Meski diganti nama berkali-kali, yang berhak populer adalah nama Komdak, bukan yang lain. Bila anda menjadi Kapolri pun, tidak usah repot memaksa masyarakat menggunakan istilah baru, karena akan menghabiskan energi dan biaya yang tidak sedikit.

Kisah tentang kelaziman ini adalah kabar baik buat siapa saja yang tidak termasuk yang terbaik, dan buat pengusaha yang produknya bukan yang terbaik. Terbukti, tidak semua orang menjadi hebat karena yang terbaik, tidak semua produk yang laris yang paling bermutu, tidak semua yang paling baik dan paling murah otomatis paling laku dan tidak semua orang sukses adalah yang paling pintar di sekolah.

Kita dapat menyebut hal ini dengan kata-kata, banyak hal yang tidak adil dalam kehidupan ini (biasanya yang berbicara demikian adalah mereka yang merasa sudah melakukan yang terhebat tapi kalah dibanding yang lain yang biasa saja). Namun dalam pandangan positif, bahwa kehidupan ini menjadi sesuatu yang menarik justru karena banyak hal yang sulit kita tebak. Hasil riset motivasi pun membuktikan bahwa seseorang akan termotivasi melakukan sesuatu secara optimal apabila hasil akhirnya punya kemungkinan sukses dan gagalnya masing-masing 50%. Jika kemungkinan berhasil hanya 1%, seorang akan malas melakukan tindakan mencapai target. Demikian sebaliknya, jika kemungkinan berhasilnya 100%, dia juga kurang termotivasi karena bekerja tanpa keringat pun dia pasti mampu mencapainya.

Pesan lain yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah bahwa untuk hebat luar biasa ternyata tidak harus selalu menjadi sesuatu yang paling berbeda dan luar biasa sebagaimana sering kita dengar, namun  dapat juga dengan menjadi atau menciptakan sesuatu yang lazim, yang diterima banyak orang. Lazim itu sendiri adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang mudah dipakai orang, dan itu tidak berarti harus canggih.***

Hukum Kelaziman (dari buku Jangan Pulang Sebelum Menang)

Hukum Kelaziman
Cobalah sekali waktu anda bertanya ke orang di sudut jalan kota Jakarta, “dimanakah letak Komdak?”. Hampir semuanya akan segera menunjuk sebuah tempat bertuliskan Polda Metro Jaya yang berlokasi di dekat Jembatan Semanggi.
Jangan kecewa, di sana tidak ada tulisan Komdak. Komdak itu sendiri entah nama apa, mungkin dulunya bernama Komando Daerah Kepolisian disingkat Komdak. Begitu melekatnya nama Komdak, penduduk Jakarta sudah tidak peduli lagi dengan pergantian nama. Bahkan singkatan Komdak pun jarang yang tahu, termasuk saya.
Perubahan nama Komdak menjadi Polda tentunya punya maksud baik. Tapi dalam kehidupan masyarakat, termasuk dunia bisnis, ada semacam hukum dimana yang sudah terbiasa dipakai konsumen, itulah yang dianggap benar. Kita menyebutnya kelaziman.
Tanadi Santoso, seorang konsultan bisnis, punya cerita menarik mengenai keyboard  komputer (lihat www.tanadisantoso.com). Suatu hari anaknya bertanya, ”Pap, keyboardnya komputer ini kok ngatur ’abc’-nya seperti ini ? Kok bisa susunannya ’qwerty’. Bukankah ’a’ seharusnya di sebelah sini bukan di sebelah sana. Mengapa ?”

Pertanyaan tersebut bisa jadi mewakili pertanyaan saya dan banyak orang, dimana sebelumnya saya tidak dapat menemukan jawabannya. Pernah saya ditanya hal yang sama, jawaban saya,” ini kemungkinan merupakan hasil kesepakatan internasional” (jawaban orang dewasa supaya tidak kelihatan bego hahaha).

Menurut Tanadi, dulu pada saat belum ada komputer, orang mengetik menggunakan mesin ketik. Mesin mekanikal yang butuh dorongan tenaga dari jari-jari kita. Kalau ditekan 2 huruf sama cepatnya sering nyantol. Kalau huruf-huruf ditata sedemikian gampang ditekan dengan jari telunjuk, apa yang akan terjadi ? Orang akan mengetik terlalu cepat menjadikan mesin tiknya cepat rusak. Sehingga untuk membuat supaya lebih lambat, sengaja dibuat sulit. Sengaja dibuat tidak enak agar mengetiknya perlahan-lahan.

Dan menariknya setelah ditemukan komputer, keyboardnya tetap mengikuti pola mesin ketik. Meski ditemukan cara penyusunan huruf yang baru, sehingga bisa lebih enak lagi, bisa lebih cepat lagi, tapi tetap saja orang-orang akan memakai susunan ’qwerty’ ini. Karena apa ? Karena sudah menjadi kebiasaan orang. Karena semua orang sudah lazim memakai cara ini. Semua orang sudah belajar tentang cara yang ini.

Kisah Komdak maupun keyboard komputer hakekatnya sama. Yang sudah lazim dipakai masyarakat itulah yang mendominasi masyarakat, dalam bahasa bisnis, dikatakan mendominasi pasar. Dari kisah ini kita dapat melihat bahwa sebuah hal yang baik belum tentu paling banyak dipakai oleh orang. Kalau anda masih ingat jaman video dulu, ada dua jenis video yang saling bersaing, yaitu Betamax vs VHS. Betamax secara teknologi lebih kecil, lebih bagus, lebih canggih, tapi VHS lebih mendunia. Kenapa ? Karena VHS keluar lebih dulu dan lebih diterima orang-orang.

Software pun juga sama. Kenapa semua orang pakai Microsoft Office ?
Karena orang lain pakai ini semua. Ini menjadi sebuah kebiasaan. Maka kita harus sadar bahwa yang paling laku, paling sukses belum mesti sesuatu yang paling bagus. Bahwa secara logis ”yang terbaik adalah yang berhak atas kesuksesan” itu memang benar, tapi kenyataan berbicara berbeda.

Jadi "qwerty" keyboard bukanlah cara menulis terbaik, tapi mempunyai hak untuk mendapatkan "kesuksesan" seperti sekarang. Karena alasan lebih dulu terpakai orang, sehingga orang menjadi malas mengubahnya.
Dan ternyata semua orang di dunia memakai ini semua. pi

Istilah Komdak juga menjadi nama “resmi” masyarakat karena nama itulah yang lebih dulu populer. Meski diganti nama berkali-kali, yang berhak populer adalah nama Komdak, bukan yang lain. Bila anda menjadi Kapolri pun, tidak usah repot memaksa masyarakat menggunakan istilah baru, karena akan menghabiskan energi dan biaya yang tidak sedikit.

Kisah tentang kelaziman ini adalah kabar baik buat siapa saja yang tidak termasuk yang terbaik, dan buat pengusaha yang produknya bukan yang terbaik. Terbukti, tidak semua orang menjadi hebat karena yang terbaik, tidak semua produk yang laris yang paling bermutu, tidak semua yang paling baik dan paling murah otomatis paling laku dan tidak semua orang sukses adalah yang paling pintar di sekolah.

Kita dapat menyebut hal ini dengan kata-kata, banyak hal yang tidak adil dalam kehidupan ini (biasanya yang berbicara demikian adalah mereka yang merasa sudah melakukan yang terhebat tapi kalah dibanding yang lain yang biasa saja). Namun dalam pandangan positif, bahwa kehidupan ini menjadi sesuatu yang menarik justru karena banyak hal yang sulit kita tebak. Hasil riset motivasi pun membuktikan bahwa seseorang akan termotivasi melakukan sesuatu secara optimal apabila hasil akhirnya punya kemungkinan sukses dan gagalnya masing-masing 50%. Jika kemungkinan berhasil hanya 1%, seorang akan malas melakukan tindakan mencapai target. Demikian sebaliknya, jika kemungkinan berhasilnya 100%, dia juga kurang termotivasi karena bekerja tanpa keringat pun dia pasti mampu mencapainya.

Pesan lain yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah bahwa untuk hebat luar biasa ternyata tidak harus selalu menjadi sesuatu yang paling berbeda dan luar biasa sebagaimana sering kita dengar, namun  dapat juga dengan menjadi atau menciptakan sesuatu yang lazim, yang diterima banyak orang. Lazim itu sendiri adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang mudah dipakai orang, dan itu tidak berarti harus canggih.***